BERITA TERKINI
Pasar IPO India Tertekan, Minat Investor Melemah di Tengah Ketidakpastian

Pasar IPO India Tertekan, Minat Investor Melemah di Tengah Ketidakpastian

Pasar penawaran umum perdana saham (IPO) di India yang sempat sangat bergairah dalam dua tahun terakhir kini menghadapi tekanan. Berdasarkan laporan EY Global IPO Trends 2025, India mencatat 367 IPO pada 2025 dan menempati posisi teratas secara global dari sisi jumlah pencatatan.

Namun, kinerja pasca-pencatatan yang mengecewakan belakangan ini membuat sebagian investor memilih menahan diri. Sejumlah pengamat menilai investor ritel dan investor dengan kekayaan bersih tinggi (HNI) mulai menjauh dari pasar primer setelah imbal hasil yang dinilai kurang memuaskan.

Data bursa menunjukkan, delapan dari 11 IPO yang tercatat sejak awal tahun diperdagangkan di bawah harga IPO masing-masing. Kondisi ini dinilai memperlemah minat investor yang selama ini menjadi salah satu penopang permintaan pada penawaran perdana.

Menurut Purkayastha, investor ritel dan HNI cenderung akan kembali ketika pengembalian menunjukkan perbaikan yang tajam. Sementara itu, Bahl dari Anand Rathi Advisors menyebut hanya sedikit perusahaan yang tetap melanjutkan rencana IPO, terutama karena “kebutuhan pendanaan mendesak” untuk keperluan bisnis atau untuk memenuhi tenggat regulasi. Ia juga menilai partisipasi investor saat ini “relatif rendah, terutama dari investor ritel.”

Penurunan minat juga terlihat dari investor institusional asing. Setelah sempat keluar dari pasar sekunder tahun lalu, kelompok investor ini menanamkan hampir USD 1,5 miliar pada IPO selama Januari hingga Maret 2025. Namun, tahun ini angkanya turun menjadi USD 820 juta, berdasarkan data NSDL.

Situasi tersebut memperbesar peran investor institusional domestik dalam proses penetapan harga IPO. Purkayastha menilai, dengan dukungan 60 bulan berturut-turut arus ekuitas positif dari investor India, investor institusional domestik kini berada dalam posisi dominan dan menetapkan harga IPO dengan “melakukan tawar-menawar yang keras.”