Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan durasi konflik yang melibatkan Iran akan menjadi faktor kunci yang menentukan pergerakan harga minyak dan dampaknya terhadap pasokan energi global. Pernyataan itu disampaikan Bessent dalam wawancara dengan CNBC saat Washington menilai risiko energi yang muncul dari meningkatnya konfrontasi di Iran dan kawasan Timur Tengah.
Menurut Bessent, upaya untuk merespons atau menekan kenaikan harga minyak bergantung pada seberapa lama perang berlangsung. Ia menyebut, “Setiap tindakan untuk mengatasi harga tergantung pada durasi perang.”
Bessent juga menyinggung kondisi di Selat Hormuz. Ia menyatakan pemerintah AS meyakini kapal-kapal China telah keluar dari kawasan tersebut.
Terkait pasokan minyak, Bessent mengatakan defisit berada pada kisaran 10 hingga 14 juta barel. Ia juga menilai lonjakan harga minyak berpotensi menguntungkan Rusia. Menurutnya, Presiden Rusia Vladimir Putin akan mendapatkan lebih banyak uang jika harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan intervensi di pasar minyak, Bessent mengatakan pihaknya belum melakukannya. Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa “sangat mungkin untuk mengasumsikan penyelesaian yang sukses dari 301,” tanpa merinci lebih lanjut konteks pernyataan tersebut.