Di tengah dinamika pasar saham 2026, ketika pergerakan IHSG kerap berfluktuasi mengikuti arah suku bunga global dan arus dana asing, banyak investor tergoda berburu “saham panas”. Notifikasi grup Telegram ramai, influencer investasi bermunculan, dan pergerakan grafik yang menghijau cepat menarik perhatian.
Namun, bagi investor yang membidik saham multibagger—saham yang berpotensi naik 5 kali, 10 kali, bahkan 20 kali lipat—pendekatan yang paling sering relevan justru tidak sensasional: menelaah laporan keuangan.
Dalam praktiknya, banyak investor memulai pencarian dari saham ber-PER (Price to Earnings Ratio) rendah. PER menggambarkan perbandingan harga saham terhadap laba per saham, atau seberapa besar “harga” yang dibayar untuk setiap satu rupiah laba perusahaan. PER 5 kerap dianggap murah, tetapi harga murah bisa mencerminkan pasar yang menilai prospek perusahaan suram.
Di sisi lain, saham multibagger sering tampak “mahal” pada tahap awal. PER dapat berada di kisaran 25 hingga 40, tetapi laba perusahaan tumbuh 25–30% per tahun. Secara sederhana, bila laba tumbuh 30% per tahun selama lima tahun, hasilnya mendekati empat kali lipat. Jika kepercayaan pasar meningkat dan valuasi ikut naik, harga saham bisa terdorong lebih jauh, misalnya menjadi 6–8 kali.
Untuk menilai peluang multibagger dari sisi fundamental, ada beberapa indikator yang kerap menjadi perhatian.
Pertama, pertumbuhan laba yang konsisten. Tolok ukur yang disebutkan adalah minimal lima tahun berturut-turut, dan lebih baik bila mencapai 10 tahun. Pertumbuhan yang stabil dinilai mencerminkan fondasi bisnis yang kuat.
Kedua, ROE (Return on Equity) yang tinggi, misalnya di atas 20%. ROE mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham. Dalam pandangan banyak analis, termasuk filosofi investasi yang kerap dikaitkan dengan Warren Buffett, bisnis yang baik umumnya efisien dalam memutar modal.
Ketiga, arus kas operasi yang kuat. Laba akuntansi dapat dipengaruhi pencatatan, tetapi arus kas dinilai lebih sulit dimanipulasi. Karena itu, bila laba meningkat tetapi arus kas stagnan, kondisi tersebut dianggap patut diwaspadai.
Keempat, utang yang terkontrol. Utang bukan hal yang otomatis buruk, tetapi agresivitas utang dinilai dapat meningkatkan risiko. ROE yang tinggi karena dorongan utang besar disebut bukan kualitas yang sesungguhnya, melainkan bisa menjadi “kosmetik” kinerja.
Kelima, keberadaan “moat” atau keunggulan kompetitif. Moat diartikan sebagai parit pertahanan bisnis yang membuat perusahaan lebih sulit disaingi, misalnya melalui merek kuat, jaringan distribusi luas, biaya produksi paling rendah, atau perlindungan regulasi. Tanpa keunggulan kompetitif, pertumbuhan dinilai berisiko hanya bersifat sementara.
Artikel tersebut juga menyoroti alasan mengapa saham multibagger sering tidak ramai dibicarakan. Umumnya, saham-saham ini berada pada kategori kapitalisasi pasar kecil hingga menengah, tidak banyak diliput analis, likuiditasnya relatif sepi, dan tidak sedang menjadi tren di media sosial. Pergerakan harga dapat berlangsung pelan ketika investor institusi mulai masuk, lalu meningkat lebih cepat seiring waktu.
Di sisi lain, banyak investor ritel disebut baru masuk setelah harga sudah naik signifikan, misalnya 300%, lalu mempertanyakan apakah saham tersebut masih berpotensi naik berkali-kali lipat lagi. Pada kondisi seperti itu, peluang kenaikan lanjutan sering kali tidak sebesar fase awal.
Tantangan lain yang disorot adalah kemampuan menahan saham dalam jangka panjang. Kenaikan 50% dapat memicu keinginan untuk menjual, kenaikan 100% memunculkan kekhawatiran koreksi, dan kenaikan 200% bisa membuat investor merasa sudah tepat sepenuhnya—padahal perjalanan pertumbuhan bisa saja belum selesai.
Secara umum, disebutkan bahwa data historis menunjukkan saham dengan pertumbuhan laba dua digit yang stabil dalam jangka panjang dapat mengungguli mayoritas indeks selama fundamentalnya tetap terjaga, merujuk pada berbagai laporan riset manajer investasi global dan studi performa saham pertumbuhan jangka panjang.
Kesimpulan yang ditekankan: multibagger bukan hasil keajaiban, melainkan akumulasi kinerja bisnis yang bertumbuh. Bagi investor yang ingin lebih serius di pasar modal, pendekatan yang dianjurkan adalah mengurangi fokus pada keramaian dan mulai menelaah laporan keuangan, termasuk neraca perusahaan.

