BERITA TERKINI
Ketegangan Greenland dan Ancaman Tarif Trump Picu Aksi ‘Jual Amerika’, Dolar dan Obligasi AS Tertekan

Ketegangan Greenland dan Ancaman Tarif Trump Picu Aksi ‘Jual Amerika’, Dolar dan Obligasi AS Tertekan

NEW YORK — Pasar keuangan dilanda aksi “jual Amerika” pada Selasa (20/1/2026) pagi, setelah Presiden Donald Trump dan para pemimpin Eropa meningkatkan ketegangan terkait Greenland. Tekanan terlihat pada dolar AS, obligasi pemerintah AS, hingga pasar saham, sementara emas dan perak melesat ke rekor baru.

Harga obligasi AS turun, yang mendorong imbal hasil (yield) naik. Pada saat yang sama, Indeks Dolar AS—yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama—melemah hampir 1%. Euro menguat 0,8% terhadap dolar.

Krishna Guha, kepala strategi kebijakan global dan perbankan sentral di Evercore ISI, menilai pergerakan ini sebagai kelanjutan dari pola “jual Amerika” dalam konteks sikap pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off) secara global.

Di pasar komoditas, emas dan perak melonjak ke level tertinggi baru. Emas, yang kerap dipandang sebagai aset lindung nilai saat terjadi gejolak geopolitik, berada di jalur kenaikan harian terbesar sejak Oktober.

Tekanan juga menimpa bursa saham AS. Indeks Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 600 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melemah lebih dari 1%. Indeks Volatilitas Cboe (VIX), yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street, naik ke level tertinggi sejak November.

Gejolak ini muncul setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif 10% terhadap delapan negara Eropa sebagai bagian dari dorongannya untuk mengambil alih Greenland. Perwakilan dari 27 negara Uni Eropa menggelar pertemuan darurat menyikapi rencana tarif tersebut, yang menurut Trump akan dimulai pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni.

Greenland berulang kali menolak permintaan Trump untuk membeli pulau Arktik itu. Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen pada Senin menyatakan negaranya “tidak akan ditekan” dan akan “tetap berpegang pada dialog, rasa hormat, dan hukum internasional.” Di sisi lain, pejabat Eropa dilaporkan mempertimbangkan tarif balasan serta langkah ekonomi hukuman lainnya terhadap AS.

Perdagangan “jual Amerika” dipandang mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor global untuk berinvestasi di AS, di tengah kekhawatiran bahwa negara tersebut tidak lagi menjadi mitra dagang yang dapat diandalkan. Setelah ancaman terbaru Trump, sebagian investor juga khawatir negara-negara Eropa dapat melepas aset AS sebagai bentuk unjuk kekuatan.

Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, mengatakan bahwa di balik isu defisit dan perang dagang, terdapat risiko arus modal dan “perang modal.” Ia menilai konflik semacam ini meningkatkan kemungkinan berkurangnya kecenderungan untuk membeli utang AS.

Pelemahan Indeks Dolar AS pada hari itu disebut sebagai yang terbesar sejak Trump menyebut “peluncuran Hari Pembebasan” pada April lalu, ketika tarif dinaikkan tajam sebelum banyak di antaranya kemudian dipangkas.

Tekanan pasar pada Selasa melanjutkan pelemahan yang mulai terlihat pada Senin, ketika pasar AS tutup untuk libur Martin Luther King Jr. Ancaman tarif Trump terhadap anggur Prancis dan barang impor lainnya turut mengguncang investor yang khawatir AS tidak lagi bertindak sebagai sekutu dagang Eropa yang konsisten. Indeks Stoxx 600 Eropa memperpanjang penurunan, mengikuti pelemahan pasar Asia.

Guha menilai pelemahan dolar dan penguatan euro menunjukkan investor global berupaya mengurangi atau melindungi eksposur terhadap AS yang dinilai volatil. Ia juga menyebut dampak terhadap dolar dan aset AS berpotensi berat dan bertahan lama jika Trump tidak menarik kembali rencananya—pola yang ia sebut “TACO” atau “Trump Always Chickens Out”—atau gagal menemukan kompromi. Namun, menurutnya, besaran dan durasi dinamika tersebut masih akan ditentukan.

Di luar faktor geopolitik dan perdagangan, sebagian investor juga dinilai tengah mencari cara mendiversifikasi portofolio menjauh dari saham AS, ketika indeks mendekati rekor tertinggi dan saham Amerika menyumbang porsi besar kapitalisasi pasar global. Russ Mould, direktur investasi di AJ Bell, mengatakan pasar mungkin sudah sepenuhnya memperhitungkan konsep “keistimewaan Amerika,” sehingga tidak dibutuhkan banyak pemicu untuk mendorong investor melindungi posisi spekulatif dan melakukan diversifikasi.