Ketegangan militer di Timur Tengah kembali memanas pada Maret 2026. Serangan udara intensif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang melibatkan teknologi drone serta rudal balistik mengguncang stabilitas keamanan global dan memicu gejolak di pasar keuangan. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), situasi ini tercermin dari aksi jual besar-besaran investor global yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seiring derasnya arus modal keluar (outflow).
Tekanan di pasar saham muncul di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi serta meningkatnya risiko perlambatan ekonomi dunia. Konflik yang disebut melibatkan penghancuran fasilitas diplomatik dan kilang minyak di kawasan Teluk turut memperkuat sentimen negatif, terutama ketika laporan ledakan di Teheran dan pencegatan rudal di wilayah Uni Emirat Arab (UEA) menjadi perhatian pelaku pasar.
Di tengah kondisi tersebut, fenomena panic selling kembali mencuat. Istilah ini merujuk pada aksi jual aset dalam jumlah besar dalam waktu singkat yang didorong rasa takut, tanpa mempertimbangkan prospek fundamental jangka panjang. Bagi investor asing, ketidakpastian geopolitik kerap menjadi pemicu untuk memprioritaskan pengamanan modal, termasuk dengan mengurangi eksposur di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Sejumlah faktor dinilai mendorong investor asing melakukan penjualan bersih signifikan di tengah konflik AS-Iran. Pertama, lonjakan harga energi dan risiko inflasi global. Gangguan jalur logistik di Selat Hormuz—yang disebut sebagai titik penting perdagangan minyak dunia—menjadi sorotan setelah Iran mengancam menutup selat tersebut. Dalam situasi itu, harga minyak mentah Brent sempat melesat melampaui USD 110 per barel. Kenaikan harga energi dipandang berpotensi mendorong inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) dan memperkuat skenario suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), yang umumnya tidak disukai pasar saham.
Kedua, menguatnya sentimen risk-off dan peralihan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Dalam fase meningkatnya risiko geopolitik, investor cenderung menekan porsi aset berisiko dan mengalihkan dana ke Dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah AS (US Treasuries). Pada awal Maret 2026, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih hingga triliunan rupiah, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang IHSG.
Ketiga, tekanan pada sektor perbankan dan konsumsi. Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI kerap menjadi sasaran utama aksi jual investor asing karena likuiditasnya tinggi, sehingga memudahkan penarikan dana cepat. Sementara itu, sektor konsumsi ikut tertekan akibat kekhawatiran potensi kenaikan harga BBM dan inflasi domestik yang dapat menggerus daya beli.
Hingga pertengahan Maret 2026, akumulasi penjualan bersih asing disebut telah mencapai angka signifikan. Tekanan juga merembet ke sektor properti dan telekomunikasi. Namun, pergerakan berbeda terlihat pada saham berbasis komoditas. Di tengah koreksi pasar, sebagian investor justru melirik saham energi dan emas seperti ANTM serta emiten batu bara sebagai upaya lindung nilai terhadap inflasi (inflation hedge).
Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perang mungkin akan “segera berakhir” belum cukup meredakan kekhawatiran pasar. Pelaku pasar masih menunggu hasil diplomasi yang lebih konkret. Selama ketidakpastian berlanjut, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dan arus dana asing (foreign flow) menjadi salah satu indikator penting karena sering memengaruhi arah tren di bursa domestik.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor ritel diimbau tidak terjebak pada keputusan emosional. Sejumlah langkah yang kerap digunakan untuk menghadapi volatilitas antara lain melakukan penyeimbangan ulang portofolio (rebalancing) agar diversifikasi tetap terjaga, termasuk mempertimbangkan sektor yang relatif diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas atau lebih tahan terhadap inflasi. Selain itu, fokus pada fundamental perusahaan dinilai penting karena tekanan akibat panic selling dapat mendorong harga turun jauh di bawah nilai wajar, yang oleh sebagian investor dipandang sebagai peluang buy on weakness pada emiten berfundamental kuat.
Investor juga disarankan memantau pergerakan kurs rupiah, mengingat konflik global kerap memperkuat Dolar AS. Emiten dengan beban utang valuta asing besar dinilai lebih rentan ketika rupiah melemah. Di sisi lain, penggunaan analisis teknikal dapat membantu mengidentifikasi area support dan resistance dalam menentukan waktu eksekusi transaksi di pasar yang fluktuatif.
Konflik udara AS-Iran pada Maret 2026 kembali menegaskan bahwa pasar saham sangat dipengaruhi dinamika geopolitik, baik melalui psikologi investor maupun arus modal global. Dalam jangka pendek, aksi jual investor asing dapat menekan harga. Namun bagi sebagian pelaku pasar, periode volatilitas juga dapat menjadi momentum untuk menata ulang strategi investasi secara lebih terukur.