Pasar keuangan domestik melanjutkan tren pelemahan pada pekan lalu, seiring sentimen regional yang cenderung negatif di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah dan volatilitas harga minyak mentah dunia. Tekanan juga tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah untuk pekan ketiga berturut-turut dan ditutup pada level terendah dalam delapan bulan. Secara mingguan, IHSG turun 5,92% atau 449,475 poin ke posisi 7.137,212. Tekanan disebut terjadi di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing pada saham-saham bank besar dan emiten berkapitalisasi besar lainnya.
Pelemahan juga terjadi di bursa Asia secara umum. Kondisi ini dikaitkan dengan konflik perang Iran yang berkepanjangan serta fluktuasi harga minyak mentah global, yang mendorong sikap hati-hati pelaku pasar di kawasan.
Memasuki pekan 16–17 Maret 2026, pergerakan pasar diperkirakan berlangsung lebih terbatas karena merupakan pekan perdagangan yang lebih pendek di tengah libur Nyepi dan Lebaran. IHSG diproyeksikan cenderung konsolidasi menjelang libur panjang sambil mencermati sentimen bursa regional. Dalam proyeksi rentang teknikal mingguan, IHSG disebut berada dengan area resistance di 7.765 dan 8.098, sementara support di 7.071 dan 6.955 apabila tekanan jual berlanjut.
Di pasar valuta asing, rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS, meski pelemahannya dinilai lebih terbatas. Rupiah secara mingguan melemah 30 poin atau 0,18% ke level Rp16.940 per dolar AS, kembali mendekati area rekor terendah. Pada saat yang sama, dolar AS menguat mendekati level tertinggi hampir 10 bulan, didorong meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Untuk pekan berikutnya, kurs USD/IDR diperkirakan masih dalam tren naik, yang berarti rupiah berpotensi melanjutkan bias koreksi. Rentang yang dicermati berada pada resistance Rp16.976 dan Rp17.100, dengan support Rp16.812 dan Rp16.753.
Pasar surat utang juga menunjukkan tekanan. Harga obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun terpantau turun signifikan secara mingguan, tercermin dari lonjakan imbal hasil (yield) yang berakhir di level 6,818% pada akhir pekan kedua. Sementara itu, yield US Treasury juga dilaporkan meningkat untuk minggu kedua.
Dari sisi data domestik, Bank Indonesia melaporkan keyakinan konsumen pada Februari 2026 tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada pada level optimis, yakni 125,2 (indeks di atas 100). Optimisme tersebut ditopang Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat 115,9.
Selain itu, kinerja penjualan eceran pada Februari 2026 diperkirakan meningkat baik secara tahunan maupun bulanan. Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 diprakirakan tumbuh 6,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pendorong utama berasal dari peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok, terutama suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.
Bank Indonesia menilai kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Pelaku pasar pada pekan mendatang juga menaruh perhatian pada rilis suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang dijadwalkan pada Selasa, dengan perkiraan bertahan di level 3,75%. Secara keseluruhan, sentimen global masih berpusat pada perkembangan konflik Timur Tengah serta volatilitas harga minyak mentah dunia, yang berpotensi terus memengaruhi arah pasar domestik.