Jakarta — Pasar modal domestik berada di bawah tekanan signifikan seiring eskalasi perang dan ketidakpastian geopolitik global. Kondisi makroekonomi yang menantang memicu aksi jual luas di bursa, yang turut menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Ramadan.
IHSG tercatat terkoreksi 14,48% selama periode tersebut. Indeks turun dari level awal Ramadan 8.310,23 hingga mencapai 7.106,84 pada penutupan perdagangan Selasa (17/3/2026).
Meski pasar secara umum melemah, terdapat sepuluh saham yang justru mencatat penguatan selama Ramadan. Di tengah mayoritas portofolio investor tergerus oleh penurunan indeks, saham-saham ini mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan yang relatif menonjol.
Dari daftar tersebut, empat emiten mencatat kenaikan di atas 100% atau berstatus multibagger. PT Estee Gold Feet Tbk. (EURO) memimpin dengan apresiasi 172,48% dan kapitalisasi pasar Rp5,17 triliun. Berikutnya, PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) naik 115,23%, disusul PT Lancartama Sejati Tbk. (TAMA) yang menguat 105,45%. PT Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP) melengkapi kelompok multibagger dengan kenaikan 100,00%.
Enam saham lainnya juga mencatat kenaikan yang cukup besar meski di bawah 100%. PT PP Property Tbk. (PPRO) naik 66,67% dan PT Indah Prakasa Sentosa Tbk. (INPS) menguat 61,92%. PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII), yang menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar dalam daftar ini sebesar Rp10,45 triliun, naik 57,41%.
Selanjutnya, PT Tirta Mahakam Resources Tbk. (TIRT) menguat 48,33%, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE) naik 45,00%, dan PT Alakasa Industrindo Tbk. (ALKA) bertambah 44,55%.
Secara sektoral, sepuluh saham tersebut berasal dari beragam industri. EURO mewakili sektor barang konsumsi, IFSH bergerak di pertambangan, dan TAMA berada di bidang konstruksi dan jasa. WMPP tercatat di sektor konsumer non-primer, sementara PPRO dan JGLE berasal dari sektor properti. Adapun INPS berada di sektor energi dan distribusi, AGII di gas industri, TIRT di manufaktur, serta ALKA di industri aluminium.
Dalam ulasan riset yang menyertai data tersebut, kenaikan saham-saham ini disebut memiliki korelasi dengan komoditas yang didistribusikan melalui Selat Hormuz yang terhenti akibat meningkatnya tensi geopolitik. Di tengah tekanan pasar yang luas, keberadaan saham-saham yang mampu menguat dari berbagai sektor menegaskan bahwa pergerakan harga tetap dapat terjadi secara selektif, terutama pada emiten dengan karakteristik tertentu di tengah situasi yang berkembang selama Ramadan.
Catatan: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berupa pandangan riset dan tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual instrumen investasi tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada pembaca.