Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026. Indeks naik 84,55 poin atau 1,20% ke level 7.106,84, setelah sebelumnya menguji area psikologis 7.000 di tengah tekanan global.
Dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, pergerakan IHSG mulai menunjukkan indikasi tekanan yang lebih terbatas di area bawah. Sinyal ini terlihat dari perubahan aktivitas transaksi serta munculnya sinyal teknikal di area support. Kiwoom menilai tekanan pasar berpotensi mulai terbatas atau memiliki limited downside potential.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada kisaran 7.059 hingga 7.148. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp17,87 triliun, dengan volume 246,13 juta lot dan frekuensi lebih dari 1,55 juta kali.
Dari sisi aliran dana, investor asing kembali membukukan pembelian bersih di pasar reguler. Pembelian asing mencapai Rp10,04 triliun, sementara penjualan Rp9,89 triliun, sehingga tercatat net foreign buy sebesar Rp155,35 miliar.
Aksi beli asing ini muncul setelah beberapa hari sebelumnya pasar berada dalam tekanan jual. Meski demikian, secara akumulasi sepekan terakhir investor asing masih mencatat penjualan bersih sekitar Rp1,57 triliun.
Komposisi transaksi menunjukkan investor asing menyumbang 56,03% dari total nilai perdagangan, sedangkan investor domestik 43,97%. Namun dari sisi volume, investor domestik mendominasi 68,22% dibanding asing 31,78%. Frekuensi transaksi juga lebih banyak dilakukan investor domestik dengan porsi 75,06%.
Kiwoom juga mencatat munculnya pola teknikal di area bawah pergerakan indeks. Formasi candlestick terlihat menyerupai pola hammer di area support lower channel. Selain itu, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan divergensi positif, yaitu saat harga membentuk titik rendah baru tetapi indikator tidak mengikuti pelemahan tersebut. Kondisi ini dinilai membuka peluang technical rebound dari level psikologis 7.000.
Penguatan harian ini terjadi setelah IHSG sempat melemah dalam beberapa pekan terakhir. Dalam periode satu bulan, indeks tercatat turun sekitar 13,46%.
Di luar faktor domestik, pelaku pasar masih mencermati perkembangan eksternal, termasuk pergerakan harga minyak global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Harga minyak Brent berada di kisaran USD100 per barel setelah sebelumnya sempat mendekati USD120, yang turut memengaruhi ekspektasi inflasi global dan arah suku bunga.
Pasar juga menanti hasil pertemuan Federal Reserve yang berlangsung saat Bursa Efek Indonesia memasuki masa libur Lebaran, sehingga hasilnya menjadi perhatian ketika perdagangan kembali dibuka. Sementara itu, nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.978 per dolar AS, mendekati level psikologis 17.000 di tengah tekanan eksternal.
Kiwoom menilai kondisi pasar masih sensitif terhadap dinamika global, sementara investor cenderung menjaga posisi menjelang libur panjang. Dalam riset tersebut, Kiwoom menyebut situasi saat ini masih bersifat highly speculative sehingga investor disarankan tidak terlalu agresif dalam mengambil posisi. Ke depan, pergerakan IHSG jangka pendek diperkirakan tetap dipengaruhi dinamika global selama periode libur, termasuk kebijakan moneter dan pergerakan harga energi dunia.