BERITA TERKINI
IHSG Jelang Libur Lebaran: Sinyal Rebound, Right Issue PYFA, dan Anomali Saham Emas

IHSG Jelang Libur Lebaran: Sinyal Rebound, Right Issue PYFA, dan Anomali Saham Emas

Pasar modal Indonesia memasuki fase krusial menjelang penutupan perdagangan sebelum libur panjang Lebaran. Dalam sesi Tiger Insights yang disiarkan Maybank Sekuritas pada 17 Maret 2026, perhatian investor tertuju pada pergerakan teknikal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), rencana right issue emiten farmasi, serta pergerakan saham terkait emas yang dinilai tidak sejalan dengan kenaikan harga komoditas global.

Investment Specialist Maybank Sekuritas, Haikal Putra, menilai IHSG masih berada dalam tekanan jual, namun mulai memperlihatkan sinyal perlawanan. Ia menyoroti terbentuknya pola lower shadow yang panjang pada grafik teknikal meski indeks ditutup negatif. Pola tersebut dipandang sebagai indikasi awal bahwa pasar mulai merespons area harga yang dinilai telah berada di bawah nilai wajar, sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound dalam jangka pendek.

Untuk mengonfirmasi penguatan, Haikal menyebut IHSG idealnya mampu bergerak di atas level 7.074 dan menguji kembali 7.156. Namun jika dorongan beli tidak cukup kuat, indeks dinilai perlu bertahan di atas area support 6.917 agar tidak melanjutkan pelemahan menuju skenario terburuk di sekitar 6.811. Penurunan volume transaksi dinilai wajar karena sebagian investor cenderung meningkatkan posisi kas menjelang periode libur panjang.

Di sisi aksi korporasi, rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) menjadi salah satu sorotan. Perusahaan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 5,7 miliar saham baru yang disertai penerbitan waran. Dana hasil aksi tersebut disebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi perusahaan di sektor kesehatan.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah, menilai emiten yang berada pada fase ekspansi agresif seperti PYFA cenderung kurang sesuai bagi investor yang mengutamakan dividen rutin atau stabilitas keuangan jangka pendek. Menurutnya, strategi pertumbuhan jangka panjang dapat membuat laporan laba rugi masih tertekan akibat besarnya biaya ekspansi, sehingga investor perlu memiliki toleransi risiko yang memadai. Keputusan final terkait harga pelaksanaan dan jumlah saham akan ditentukan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 April 2026.

Perhatian lain datang dari saham-saham yang terafiliasi dengan emas dan tembaga. Meski harga emas global mengalami kenaikan, saham seperti Amman Mineral Internasional (AMMN) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) sempat terkoreksi. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai korelasi antara harga komoditas dengan pergerakan saham emiten terkait.

Fath menjelaskan koreksi pada AMMN dan BRMS tidak terkait perubahan fundamental, melainkan dipicu efek rebalancing indeks GDXG (VanEck Junior Gold Miners ETF). Masuknya emiten baru seperti PSAB dan ARCI ke dalam konstituen ETF tersebut memicu penyesuaian porsi, sehingga terjadi outflow pada saham-saham yang sudah lebih dulu berada di dalam indeks untuk memberi ruang bagi pendatang baru. Ia menilai momentum ini dapat menjadi peluang masuk bagi investor yang memandang penurunan harga sebagai diskon sementara, di tengah prospek harga emas yang dinilai masih solid.

Dalam kondisi pasar yang volatil, Haikal menekankan pentingnya seleksi saham dengan struktur tren yang kuat. Ia menyebut saham ADHI masih berada dalam tren kenaikan yang relatif konsisten sejak awal Februari. Selama ADHI mampu bertahan di atas level psikologis dan area support 9.550, target penguatan berikutnya diproyeksikan menuju 10.900 hingga 11.500.

Haikal juga menyoroti saham ESA yang sedang menguji area resistance setelah fase sideways yang panjang. Jika ESA mampu menembus level 745 dengan volume transaksi yang kuat, saham ini dinilai berpeluang mengarah ke target 810. Selain itu, saham ULTJ disebut layak dicermati karena posisinya stabil di atas rata-rata harga 50 hari (MA50), dengan target terdekat di kisaran 1.665 hingga 1.730.

Dari sisi sentimen global, kenaikan harga aluminium akibat ketegangan di Timur Tengah turut memberi warna bagi pasar domestik, terutama bagi emiten smelter seperti ADMR dan ANTM. Meski pasar akan memasuki masa libur yang cukup panjang, investor disarankan tetap memantau perkembangan geopolitik dan dinamika kebijakan fiskal dalam negeri.

Menjelang periode libur, pelaku pasar dihadapkan pada kombinasi tekanan teknikal, aksi korporasi, dan faktor eksternal. Dalam situasi seperti ini, volatilitas dapat membuka peluang, namun keputusan investasi tetap menuntut analisis yang cermat baik dari sisi teknikal maupun fundamental.