Jakarta, CNBC Indonesia — Keamanan data pribadi kian menjadi isu penting seiring meningkatnya penetrasi layanan keuangan digital (LKD) di tengah masifnya serangan siber dan bertambahnya ragam modus penipuan finansial.
Steering Committee Indonesia Fintech Society (IFSoc), Karaniya Dharmasaputra, mengatakan perkembangan digitalisasi yang mengarah pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) membuat risiko serangan siber perlu diantisipasi secara lebih serius. Ia menyebut Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 4,4 miliar anomali serangan siber hingga September 2025.
Menurut Karaniya, lembaga keuangan dan industri yang mengadopsi teknologi digital tidak cukup hanya melakukan langkah pencegahan. Mereka juga perlu memperkuat daya tahan sistem digital agar tetap andal menghadapi berbagai potensi gangguan dan serangan.
Untuk memperkuat keamanan data dan perlindungan konsumen, IFSoc menilai terdapat tiga investasi yang perlu dilakukan industri. Pertama, investasi pada sumber daya manusia atau talenta digital. Kedua, investasi pada teknologi yang digunakan. Ketiga, mendorong literasi nasabah dan konsumen agar mampu mengantisipasi serangan siber dan berbagai modus penipuan.
Pembahasan mengenai bahaya serta strategi menghadapi ancaman serangan siber di LKD ini disampaikan dalam dialog Serliana Salsabila bersama Karaniya Dharmasaputra pada program Profit, CNBC Indonesia, Rabu (25/02/2026).

