BERITA TERKINI
Hari ke-16 Perang AS–Iran: IHSG Tertekan, Rupiah Melemah, Minyak Brent Tembus USD100

Hari ke-16 Perang AS–Iran: IHSG Tertekan, Rupiah Melemah, Minyak Brent Tembus USD100

Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang pecah pada 28 Februari 2026 terus bereskalasi dan memasuki hari ke-16. Ketegangan ini ikut membebani pasar keuangan global dan domestik, seiring meningkatnya sentimen risk-off dan lonjakan harga energi.

Riset Eastspring Investment (anak usaha Prudential) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren bearish. Dalam 11 hari perdagangan terakhir, indeks hanya menguat pada dua hari. Secara year-to-date (YtD), IHSG terkoreksi hampir 20% sejak awal tahun.

Pasar keuangan domestik

Pada sesi I perdagangan Senin (16/3/2026), IHSG sempat anjlok lebih dari 3% dalam waktu kurang dari 15 menit setelah pembukaan. Indeks menyentuh level terendah 6.917,32, dengan pelemahan terjadi di tengah tekanan yang meluas di hampir seluruh sektor.

Pergerakan saham didominasi tekanan jual. Tercatat 77 saham menguat, 564 melemah, dan 84 stagnan. Aktivitas transaksi pada sesi pertama relatif sepi, dengan nilai transaksi Rp2,64 triliun yang melibatkan 7,01 miliar saham dalam 335.764 transaksi. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi sekitar Rp12.360 triliun.

Sejumlah saham menjadi pemberat utama indeks, dengan DSSA disebut sebagai kontributor pelemahan terbesar sekitar 18,24 poin indeks. BREN juga masuk jajaran laggard IHSG pada sesi pagi. Saham lain yang turut membebani antara lain BRMS, BBRI, TLKM, BBCA, dan BMRI.

Tekanan di bursa domestik sejalan dengan koreksi pada penutupan Jumat (13/3/2026). IHSG ditutup turun 3,05% ke 7.137,21, diikuti IDX80 yang turun 3,12% dan LQ45 melemah 3,04%.

Pelemahan pada hari itu terutama berasal dari DSSA (-11,47%), AMMN (-10,41%), DCII (-7,89%), BMRI (-4,23%), dan BREN (-4,18%). Menjelang libur panjang Idulfitri 1447 H, pelaku pasar cenderung bersikap defensif, dengan aktivitas perdagangan melambat serta aksi ambil untung untuk menjaga likuiditas.

Dari sisi arus modal, investor asing mencatat penjualan bersih (capital outflow) senilai Rp117,06 miliar pada Jumat. Secara YtD, capital outflow mencapai Rp8,85 triliun per 13 Maret 2026.

Dalam periode perang AS–Iran, riset tersebut juga menyoroti bahwa modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sebenarnya menyusut, dengan posisi 27 Maret 2026 sebesar Rp9,51 triliun. Namun, sentimen investor tetap dibayangi risiko pelebaran defisit fiskal apabila harga minyak bertahan tinggi.

Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa jika rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) mencapai USD92 per barel, defisit berpotensi melebar hingga 3,6% dari PDB.

Tekanan turut terlihat pada pasar obligasi dan valuta asing. Nilai tukar rupiah melemah 0,38% ke Rp16.958 per dolar AS. Indeks obligasi turun 0,24%, dengan imbal hasil SBN tenor 5 tahun naik 14 bps ke 6,33%, sementara tenor 10 tahun meningkat ke 6,80% dari 6,72%.

Pasar keuangan global

Di pasar global, eskalasi konflik mendorong harga minyak Brent ditutup di atas USD100 per barel pada Jumat. Di AS, indeks S&P 500 turun 0,61% dan Nasdaq 100 melemah 0,62%. Sementara itu, imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun naik 2 bps ke 4,28%.

AS dilaporkan membom target militer di Pulau Kharg, yang merupakan terminal utama ekspor minyak Iran. Perkembangan ini dinilai berpotensi memicu volatilitas baru di pasar energi. Donald Trump juga memperingatkan serangan dapat meluas ke infrastruktur energi jika Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.

Dari sisi data ekonomi, sentimen konsumen AS versi Universitas Michigan melemah ke level terendah dalam tiga bulan, turun menjadi 55,5 pada Maret dari 56,6 pada Februari, seiring kekhawatiran kenaikan harga bensin. Sementara itu, indeks Core PCE Januari tercatat naik 3,1% secara tahunan (YoY) dan 0,4% secara bulanan (MoM) sebelum konflik dimulai, sesuai ekspektasi.

Di Asia, pasar saham terkoreksi dengan MSCI Asia Pacific turun 1,28% dipimpin pelemahan saham teknologi. Korea Selatan mencatat penurunan terdalam di kawasan, dengan indeks Kospi turun 1,72%.

Ke depan, pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan energi, risiko inflasi, serta potensi kebijakan moneter yang lebih hawkish. Sentimen tersebut menguat menjelang keputusan suku bunga di AS dan Jepang pada pekan ini.