BERITA TERKINI
Harga Minyak Menguat, Bursa Asia Tertekan oleh Kekhawatiran Inflasi dan Suku Bunga Tinggi

Harga Minyak Menguat, Bursa Asia Tertekan oleh Kekhawatiran Inflasi dan Suku Bunga Tinggi

Sejumlah bursa utama Asia melemah pada perdagangan hari ini, seiring lonjakan harga minyak dan ekspektasi bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama. Kombinasi tersebut memicu aksi jual di pasar saham kawasan, meski Korea Selatan masih mencatat penguatan terbatas.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 ditutup turun 1.866,87 poin atau 3,38 persen ke level 53.372,53. Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi, yang dinilai dapat menekan biaya produksi dan konsumsi. Jepang sebagai negara importir energi dinilai rentan terhadap kenaikan harga komoditas tersebut.

Kehati-hatian investor juga dipengaruhi prospek kebijakan moneter global. Tony Sycamore, market analyst, mengatakan lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi dan berpotensi menunda pelonggaran kebijakan moneter, yang dinilai negatif bagi aset berisiko seperti saham.

Berbeda dengan bursa lainnya, indeks Kospi di Korea Selatan masih menguat tipis 17,98 poin atau 0,31 persen ke 5.781,20. Penguatan ini mencerminkan minat beli yang lebih selektif di tengah tekanan global. Namun, sektor teknologi masih berada di bawah tekanan seiring rotasi investor dari saham growth.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 223,26 poin atau 0,88 persen menjadi 25.277,32. Sementara itu, indeks SSE Composite di China daratan melemah 49,50 poin atau 1,24 persen ke posisi 3.957,05.

Tekanan pada pasar Asia muncul ketika harga minyak bertahan di kisaran tinggi mendekati USD100 per barel. Situasi ini memperkuat kekhawatiran inflasi global dan mendorong ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sehingga arus dana global cenderung keluar dari pasar Asia.

Kyle Rodda, senior financial market analyst di Capital dot com, menilai kombinasi harga energi yang tinggi dan imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi membuat investor lebih berhati-hati terhadap pasar saham Asia.

Selain faktor energi dan suku bunga, tekanan juga datang dari aksi jual di sektor teknologi Asia, khususnya saham semikonduktor, seiring investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian inflasi dan likuiditas global.