Pada penutupan perdagangan 22 Maret, pergerakan harga karet di pasar global menunjukkan arah yang berbeda di sejumlah bursa utama. Bursa Shanghai (SHFE) dan Singapura (SGX) memperlihatkan tanda pemulihan, sementara bursa Tokyo (Tocom) masih berada dalam tekanan, terutama pada kontrak jangka panjang. Di sisi lain, harga pembelian lateks karet mentah di pasar domestik Vietnam dilaporkan tetap stabil.
Stabilitas terlihat dari harga pembelian lateks di sejumlah perusahaan karet besar yang tidak mengalami perubahan berarti dibanding sesi sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan pasar domestik yang cenderung bertahan, meski harga di bursa internasional bergerak fluktuatif.
Di Perusahaan Karet Mang Yang, lateks kelas 1 tercatat 463 VND/TSC/kg dan lateks tipe 2 sebesar 458 VND/TSC/kg. Perusahaan Karet Phu Rieng menetapkan harga getah di 440 VND/TSC/kg. Sementara itu, Perusahaan Karet Ba Ria mencatat lateks level 1 di 452 VND/TSC/kg, dan Perusahaan Karet Binh Long menetapkan lateks (di pabrik) sebesar 432 VND/TSC/kg.
Untuk produk lateks dan lateks campuran, perbedaan harga juga terlihat. Di Perusahaan Karet Ba Ria, lateks cup serta lateks dengan DRC 50% atau lebih tinggi mencapai 18.000 VND/kg. Adapun di Perusahaan Karet Mang Yang, lateks campuran kelas 2 berada di angka 404 VND/kg.
Dari pasar internasional, karet Asia menjalani pekan yang bergejolak. Setelah tekanan penurunan yang kuat pada paruh pertama pekan, terutama pada 18–19 Maret, aksi beli kembali muncul menjelang akhir pekan di beberapa pasar utama.
Di SHFE, kontrak berjangka tercatat naik sekitar 0,68% hingga 1,47% pada sesi 21 Maret, dengan harga berfluktuasi di kisaran 16.190–16.220 CNY/ton. Permintaan domestik dari industri manufaktur ban di China dinilai menjadi salah satu faktor yang membantu menopang harga.
Di SGX, kontrak TSR20 mencatat pemulihan tipis sekitar 0,2% hingga 0,7% setelah serangkaian penurunan pada awal pekan. Harga berada di sekitar 189–190 sen/kg, mengindikasikan adanya dukungan dari pasar fisik meski belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan lebih besar.
Berbeda dengan Shanghai dan Singapura, Tocom masih melemah. Kontrak berjangka jangka panjang untuk periode Mei–Juli 2026 turun sekitar 0,9% hingga hampir 2%. Harga RSS3 berfluktuasi di kisaran 354–365 JPY/kg. Pelemahan ini dikaitkan dengan belum adanya peningkatan permintaan konsumsi di Jepang serta dampak fluktuasi nilai tukar.
Menurut Asosiasi Perusahaan Karet Alam (ANRPC), permintaan karet global dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada laju pemulihan industri otomotif. Meski penguatan di SHFE dan SGX memberi sentimen positif, pasar dinilai masih kekurangan dorongan kuat untuk mendorong pemulihan yang lebih tegas.
Dalam jangka pendek, sejumlah pihak memperkirakan harga karet akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan fluktuasi di kisaran sempit. Faktor pasokan musiman dan risiko terhadap permintaan global dipandang saling memengaruhi arah pergerakan harga.