Harga emas (XAU/USD) melemah pada perdagangan Jumat, bergerak turun dari rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat dicapai sebelumnya. Pelemahan ini terjadi ketika sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah reli kuat yang berlangsung beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, tekanan terhadap emas juga datang dari meredanya permintaan aset safe haven. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait Greenland dilaporkan mereda setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman tarif dan menyatakan telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk kesepakatan masa depan mengenai Greenland dengan NATO. Perkembangan tersebut mendorong reli lanjutan di Wall Street dan turut mengangkat bursa saham Asia.
Meski demikian, ruang penurunan emas dinilai dapat tertahan oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pasar masih memperhitungkan kemungkinan setidaknya dua kali penurunan suku bunga pada 2026, yang cenderung membuat pembeli dolar AS bersikap defensif dan berpotensi mendukung emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Sejumlah data ekonomi AS turut menjadi perhatian pasar. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan pembacaan final Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal ketiga sebesar 4,4%, sedikit di atas estimasi kedua 4,3% dan lebih tinggi dibanding 3,8% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) Inti—indikator inflasi yang menjadi acuan The Fed—naik 2,8% secara tahunan pada November dari 2,7% pada bulan sebelumnya, dengan kenaikan bulanan tercatat 0,2%.
Dari pasar tenaga kerja, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat klaim awal tunjangan pengangguran naik 1.000 menjadi 200.000 (disesuaikan musiman) untuk pekan yang berakhir 17 Januari. Angka tersebut berada di bawah perkiraan konsensus 212.000, namun dinilai belum cukup kuat untuk mendorong penguatan dolar AS secara berarti.
Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang, disebut masih berada di jalur penurunan mingguan yang besar dan memangkas sebagian besar penguatan sejak awal 2026. Kondisi ini secara umum dapat menguntungkan emas dan menjaga peluang kelanjutan tren naik, meski pasar juga mewaspadai koreksi jangka pendek setelah reli tajam.
Fokus pelaku pasar berikutnya tertuju pada pertemuan kebijakan FOMC selama dua hari yang dimulai Selasa depan. Investor akan mencari sinyal terkait jalur suku bunga The Fed, yang diperkirakan berperan penting dalam menggerakkan dolar AS dalam jangka pendek dan memengaruhi pergerakan harga emas.
Dari sisi teknikal, penembusan harga di atas bagian atas pola ascending channel yang terbentuk sejak akhir Oktober dipandang sebagai sinyal yang menguatkan prospek positif jangka pendek. Indikator MACD berada di atas garis sinyal dan keduanya berada di wilayah positif, yang mengindikasikan momentum bullish masih terjaga. Namun, RSI yang berada di sekitar 81,11 menunjukkan kondisi jenuh beli, sehingga berpotensi membatasi kenaikan dalam waktu dekat dan meningkatkan risiko pullback.
Dalam skenario koreksi, perhatian pasar mengarah pada area dasar saluran di sekitar 4.437,46. Selama harga bertahan di atas area resistance saluran sebelumnya, profil tren naik yang lebih luas dinilai masih berpeluang berlanjut, meski dengan kemungkinan jeda atau koreksi terbatas di tengah kondisi jenuh beli.

