BERITA TERKINI
Harga Emas Dunia Cetak Rekor di Atas US$ 4.700, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Emas

Harga Emas Dunia Cetak Rekor di Atas US$ 4.700, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Emas

Harga emas dunia kembali menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa setelah menembus level US$ 4.700 per ons troi. Kenaikan ini memperkuat pandangan bahwa pergerakan emas saat ini berada dalam tren naik struktural, bukan sekadar reli jangka pendek.

Pada Selasa (20/1/2026), harga emas spot ditutup menguat 2% ke US$ 4.763,43 per ons troi, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$ 4.765,93 per ons troi. Sejalan dengan itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Februari 2026 ditutup melonjak 3,7% menjadi US$ 4.765,80 per ons troi.

Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan harga emas didorong meningkatnya ketegangan geopolitik global, ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), serta pergeseran dana investor ke aset lindung nilai. Menurutnya, kondisi tersebut juga diperkuat oleh valuasi pasar saham yang dinilai sudah tinggi dan pelemahan dolar AS, sehingga emas kembali menjadi tujuan utama aliran dana global.

“Selama sentimen ketidakpastian global masih mendominasi, peluang emas untuk melanjutkan tren penguatan tetap terbuka,” ujar Hendra, Selasa (20/1/2026).

Ke depan, Hendra memandang harga emas masih berpotensi melanjutkan tren naik baik secara fundamental maupun teknikal, meski dalam jangka pendek terdapat ruang konsolidasi yang dinilai sehat setelah reli yang agresif. Ia menambahkan, selama harga emas mampu bertahan di atas level psikologis US$ 4.500 per ons troi, target lanjutan diperkirakan berada di kisaran US$ 4.800 hingga US$ 5.000 per ons troi.

Hendra juga menilai koreksi jangka pendek lebih tepat dipandang sebagai peluang akumulasi, bukan sinyal pembalikan arah, selama faktor utama seperti geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed belum berubah signifikan.

Meski demikian, lonjakan harga emas global disebut belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan saham-saham produsen emas di dalam negeri. Hendra menilai hal ini wajar karena pasar saham turut mempertimbangkan faktor lain seperti biaya produksi, kebijakan lindung nilai (hedging), struktur pendanaan, serta sentimen pasar modal secara keseluruhan.

Dalam jangka pendek, saham tambang emas berpotensi bergerak tertinggal. Namun secara fundamental, saham-saham tersebut dinilai menyimpan peluang penguatan lanjutan ketika pasar mulai memperhitungkan potensi lonjakan margin laba yang dapat tercermin pada kinerja keuangan emiten.

Dari sisi strategi, Hendra menyebut saham emas domestik saat ini lebih relevan untuk pendekatan trading dan spekulatif terukur. Ia merekomendasikan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk trading buy dengan target harga di area Rp 4.500, seiring eksposur langsung terhadap emas dan dukungan sentimen hilirisasi.

Selain itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dinilai layak dicermati untuk trading buy dengan target Rp 3.500, didukung prospek produksi emas dan tembaga meski volatilitas masih tinggi. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) disebut dapat menjadi opsi spekulatif buy dengan target Rp 2.800 untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga emas. Sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dinilai menarik untuk trading buy dengan target Rp 1.500 seiring ekspektasi perbaikan kinerja tambang emasnya.

Secara keseluruhan, rekor baru harga emas ini dinilai menegaskan bahwa siklus kenaikan emas belum berakhir. “Saham-saham emas berpotensi menyusul ketika fokus pasar mulai bergeser dari kekhawatiran global menuju proyeksi kinerja emiten,” kata Hendra.

Bagi investor, ia menekankan pentingnya disiplin strategi, selektif memilih saham dengan fundamental dan likuiditas yang baik, serta menghindari euforia berlebihan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.