BERITA TERKINI
Guru Besar Soroti Tekanan Global ke Ekonomi RI: Risiko Energi hingga Arus Modal Keluar

Guru Besar Soroti Tekanan Global ke Ekonomi RI: Risiko Energi hingga Arus Modal Keluar

Ketahanan ekonomi Indonesia kembali diuji di tengah gejolak global yang kian kompleks. Eskalasi konflik di Timur Tengah, ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, hingga derasnya arus modal keluar dinilai menciptakan tekanan berlapis terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Isu tersebut mengemuka dalam Diskusi Awal Pekan Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita bertema “Resiliensi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global”. Dalam forum itu, ekonom Ariyo DP Irhamna dan ekonom Dr. Halim Alamsyah memaparkan risiko yang mereka nilai tengah dihadapi Indonesia, baik dari sisi energi maupun keuangan.

Ariyo menilai tekanan global saat ini tidak datang dari satu arah, melainkan dari empat guncangan yang saling berkelindan. Pertama, eskalasi Timur Tengah disebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak sekitar USD 10 per barel dan menekan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia sebesar USD 3–4 miliar, yang tercermin pada neraca pembayaran.

Kedua, ia menyoroti ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Ariyo menyebut adanya fragmentasi tarif AS, termasuk perubahan dari 32% menjadi 19% serta ketentuan section 122 yang membuat tarif menjadi 10% sambil menunggu investigasi. Menurutnya, selain besaran dan kesepakatan yang dinilai merusak, ketidakpastian kebijakan juga berdampak besar.

Ketiga, Ariyo menilai China semakin agresif menekan produk industri seperti baja, elektronik, dan tekstil ke pasar domestik Indonesia. Ia menyebut sejumlah kebijakan nontarif belum efektif menahan arus produk tersebut. Keempat, ia menyoroti decoupling teknologi antara China dan Amerika Serikat yang menempatkan Indonesia dalam posisi terjepit, mengingat sekitar 34% impor mesin Indonesia berasal dari China, dan sekitar 25% total impor berasal dari negara itu, sementara ekspor Indonesia ke AS disebut berada di kisaran USD 12–13 miliar.

Di tengah tekanan global tersebut, Ariyo menilai sektor energi menjadi titik krusial. Ia mengingatkan ketergantungan Indonesia pada impor minyak masih tinggi. Ariyo menyebut adanya gap produksi dan konsumsi minyak sekitar 1 juta barel per hari, dengan produksi sekitar 600 ribu barel per hari dan konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari.

Meski demikian, ia menekankan bahwa melihat Indonesia hanya sebagai negara pengimpor minyak tidak sepenuhnya tepat. Ariyo menyebut Indonesia juga merupakan pengekspor energi, dengan surplus dari ekspor batu bara, LNG, dan CPO. Ia menyampaikan nilai ekspor energi Indonesia pada 2025 mencapai USD 54,5 miliar, sementara impor BBM sebesar USD 28,5 miliar, sehingga terdapat surplus neraca energi bersih sekitar USD 26 miliar.

Namun, Ariyo mengingatkan posisi Indonesia tetap rentan terhadap gangguan jalur distribusi energi global, khususnya Selat Hormuz. Ia menyebut lebih dari 80% crude BBM Indonesia transit melalui Selat Hormuz, sehingga impor BBM sekitar USD 28 miliar dinilai terancam bila terjadi gangguan pada jalur tersebut.

Sementara itu, Dr. Halim Alamsyah menilai tekanan yang tak kalah serius datang dari sisi keuangan dan persepsi pasar. Ia menjelaskan konflik geopolitik global menciptakan beberapa jalur tekanan terhadap ekonomi domestik, mulai dari perdagangan hingga ekspektasi pelaku pasar.

Halim menilai dampak perdagangan langsung dari Timur Tengah relatif terbatas. Ia mengacu pada data BPS mengenai mitra dagang Indonesia dengan Arab Saudi, dengan nilai ekspor Indonesia sekitar USD 3–5 miliar per tahun.

Menurut Halim, tekanan terbesar justru muncul dari perilaku investor global dan perubahan persepsi risiko. Ia menyebut risiko geopolitik dapat mendorong kecenderungan melepas dolar AS dan membeli emas, yang menurutnya sempat membuat harga emas menyentuh USD 5.000 per ons. Namun, pergerakan itu disebut tidak bertahan lama karena ekspektasi suku bunga, terutama jika inflasi global meningkat dan bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga.

Halim juga menyoroti derasnya arus modal keluar dari Indonesia. Ia menyatakan capital outflow Indonesia saat ini merupakan yang terburuk dalam 20 tahun. Menurutnya, konflik Iran memperparah tekanan yang sebenarnya telah ada, sementara ekspektasi menjadi faktor penentu karena pemilik modal bisa cepat menarik dana jika memprediksi kenaikan inflasi atau risiko ekonomi.

Selain itu, Halim menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5% dalam waktu lama. Ia menyebut kondisi pertumbuhan yang “stuck” di sekitar 5% selama 15 tahun terakhir menimbulkan pertanyaan karena jarang sebuah negara mengalami stagnasi pertumbuhan yang stabil di angka tersebut.

Dua pandangan itu menggambarkan posisi ekonomi Indonesia yang dinilai paradoks. Di satu sisi, Indonesia masih memiliki bantalan dari surplus ekspor energi. Di sisi lain, tekanan dari jalur keuangan dan ekspektasi pasar dipandang dapat memicu gejolak dengan cepat. Kombinasi ketergantungan impor minyak, risiko geopolitik, dan potensi arus modal keluar membuat ketahanan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada fundamental, tetapi juga pada kepercayaan pasar.