Mata uang euro mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (10/9/2019), seiring dengan antisipasi pelaku pasar terhadap pengumuman kebijakan moneter yang akan dilakukan European Central Bank (ECB) pada Kamis (12/9/2019) mendatang.
Pada pukul 20:20 WIB, euro diperdagangkan di level US$ 1,1037, turun sebesar 0,08% di pasar spot menurut data Refinitiv. Meski pada perdagangan hari sebelumnya euro sempat menguat 0,17%, pasar kini menunjukkan kecenderungan berhati-hati dalam memegang euro menjelang keputusan ECB.
Prediksi Stimulus Moneter dari ECB
Para pelaku pasar memperkirakan dengan probabilitas sebesar 72% bahwa ECB akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pengumuman kebijakan moneter kali ini. Selain itu, beberapa analis juga memprediksi bank sentral yang dipimpin oleh Mario Draghi tersebut akan mengaktifkan kembali program pembelian aset, atau quantitative easing, sebagai bentuk stimulus moneter.
Esther Maria Reichelt, analis dari Commerzbank, menyatakan bahwa pasar sudah mengantisipasi pemangkasan suku bunga sebesar 20 bps, sehingga dampak signifikan terhadap nilai euro akibat kebijakan tersebut kemungkinan tidak akan terjadi.
Posisi Short Euro Meningkat
Di tengah spekulasi kebijakan ECB, hedge fund meningkatkan posisi jual (short) terhadap euro. Data Reuters menunjukkan bahwa posisi short euro mencapai US$ 6,74 miliar per 3 September, yang merupakan level tertinggi dalam satu bulan terakhir, meskipun masih di bawah puncak pada bulan April.
Fokus Pasar Setelah ECB
Setelah pengumuman ECB, perhatian pasar akan beralih ke bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (19/9/2019) pekan depan. Berdasarkan piranti FedWatch milik CME Group, pasar menilai ada probabilitas sebesar 91,2% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps menjadi kisaran 1,75%-2%.
Dengan kedua bank sentral utama tersebut yang diprediksi akan menurunkan suku bunga dalam waktu berdekatan, pergerakan nilai tukar euro terhadap dolar AS cenderung terbatas dalam beberapa hari terakhir.