Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan memicu dampak berantai ke pasar energi serta pasar keuangan global. Konflik terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong investor bersikap lebih defensif di tengah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi.
Pasar ekuitas global menutup pekan kedua Maret dengan pelemahan. Berdasarkan data penutupan Jumat (13/3), indeks S&P 500 di Wall Street turun 0,61% ke level 6.632,19, menandai koreksi mingguan ketiga berturut-turut. Indeks Nasdaq yang banyak berisi saham teknologi terkoreksi lebih dalam, turun 0,93% ke posisi 22.105,36.
Tekanan di pasar saham global dipicu kekhawatiran investor atas potensi disrupsi pasokan energi di Selat Hormuz, jalur yang disebut vital bagi sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Kekhawatiran tersebut juga terkait potensi lonjakan inflasi yang dapat membuat kebijakan moneter ketat bertahan lebih lama.
Sentimen negatif turut menjalar ke Asia. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,16% atau merosot 633 poin ke level 53.819,61. Sebagai negara importir energi, Jepang dinilai rentan terhadap volatilitas harga komoditas. Data Federal Reserve Bank of St. Louis (FRED) menunjukkan Nikkei kehilangan sekitar 8,5% nilainya dalam dua minggu sejak eskalasi militer memanas di akhir Februari.
Di saat yang sama, harga minyak mentah Brent melonjak 9,22% hingga menyentuh USD 100,46 per barel. Kenaikan ini memunculkan tekanan inflasi baru yang dinilai dapat mengancam pemulihan ekonomi global, di tengah target stabilisasi CPI Amerika Serikat di kisaran 2%.
Kondisi tersebut mendorong sentimen “risk-off”, ketika investor merotasi portofolio dari aset berisiko menuju aset yang dianggap aman (safe haven). Perhatian pelaku pasar pun tertuju pada durasi konflik, dengan risiko stagflasi disebut menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi makro global pada sisa kuartal pertama 2026.
Dampak sentimen global juga terlihat pada pasar modal Indonesia. Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 224,9 poin atau turun 3,05% ke level 7.137,21. Seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia bergerak di zona merah pada hari tersebut.
Penurunan itu menempatkan IHSG sebagai salah satu bursa dengan kinerja terlemah di kawasan Asia pada hari yang sama. Secara mingguan, pada periode 9–13 Maret 2026, IHSG melemah 5,91% dari 7.585,68 pada pekan sebelumnya menjadi 7.137,21. Seiring pelemahan indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut sekitar 6,96% menjadi Rp12.678 triliun.
Koreksi tajam ini mencerminkan perubahan sikap investor global yang cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, obligasi pemerintah AS, atau emas. Dalam konteks tersebut, gejolak di Timur Tengah meski jauh dari Indonesia dapat cepat terasa melalui pergerakan dana dan sentimen di layar perdagangan.
Di sisi lain, dinamika geopolitik disebut kerap memicu volatilitas jangka pendek. Sejumlah pengamat menilai penurunan pasar akibat sentimen global sering kali bersifat sementara dan lebih dipengaruhi faktor psikologis dibanding perubahan fundamental ekonomi domestik.
Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah faktor penopang, mulai dari stabilitas sistem perbankan, pertumbuhan konsumsi domestik, hingga basis investor domestik yang semakin besar dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, eskalasi konflik global dipandang tidak hanya sebagai ancaman, tetapi juga pengingat pentingnya ketahanan struktur pasar keuangan nasional dalam meredam dampak gejolak eksternal.
Penguatan basis investor domestik dan stabilitas kebijakan makroekonomi menjadi elemen yang dinilai penting agar pasar tidak terlalu rentan terhadap arus modal jangka pendek. Dalam realitas ekonomi global saat ini, perang di satu kawasan dapat menggerakkan sentimen investor di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhirnya tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga cerminan cara kerja pasar keuangan global yang sensitif terhadap risiko, sentimen, dan ekspektasi. Bagi pasar modal Indonesia, pemahaman atas dinamika tersebut menjadi salah satu kunci untuk bertahan di tengah gejolak, sekaligus membaca peluang ketika volatilitas meningkat.