BERITA TERKINI
Empat Bank Besar Kompak Buyback Saham Saat Harga Tertekan, Analis Ingatkan Sentimen Global

Empat Bank Besar Kompak Buyback Saham Saat Harga Tertekan, Analis Ingatkan Sentimen Global

Sejumlah bank berkapitalisasi besar kompak mengumumkan dan menjalankan pembelian kembali (buyback) saham di tengah tekanan harga saham yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini dinilai analis sebagai sinyal bahwa emiten ingin menopang pergerakan saham serta menunjukkan keyakinan terhadap fundamental perusahaan.

Bank yang tercatat melakukan buyback antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dalam sepekan terakhir, BCA dan BNI mengumumkan rencana buyback melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). BCA menyiapkan buyback senilai Rp 5 triliun, sementara BNI sebesar Rp 905 miliar.

Sebelumnya, Bank Mandiri dan BRI telah memulai buyback secara bertahap sejak akhir tahun lalu. Nilai buyback Bank Mandiri tercatat Rp 1,17 triliun, sedangkan BRI Rp 3 triliun.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai buyback dapat efektif mendorong harga saham dalam jangka pendek. Menurutnya, prospek bisnis dan potensi valuasi ke depan bisa menjadi faktor yang mendukung pergerakan saham setelah aksi korporasi tersebut.

Meski demikian, Nico mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati karena pasar saham domestik masih berpotensi dipengaruhi sentimen global, termasuk konflik geopolitik. Ia menilai buyback merupakan sentimen positif, namun investor tetap perlu menunggu kepastian situasi global. Nico juga menyarankan bank melakukan buyback secara bertahap agar harga saham tidak kembali turun dalam waktu cepat.

Dari sisi lain, analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai buyback dapat berdampak positif untuk menjaga kualitas perusahaan dalam jangka panjang. Ia menyebut, apabila buyback dilakukan pada valuasi yang relatif murah, aksi ini berpotensi menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.

Andrey juga menilai kombinasi buyback dan dividen payout yang tetap tinggi membuat saham bank besar relatif lebih menarik untuk diakumulasi dibandingkan sektor lain. Menurutnya, buyback merupakan langkah yang wajar saat volatilitas pasar meningkat dan dapat membantu meredam tekanan jual.

Dari pihak emiten, Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan buyback dilakukan untuk menjaga pengelolaan struktur permodalan serta stabilitas perdagangan saham. Ia menambahkan, bagi investor, buyback dapat memberikan nilai tambah melalui penguatan kepercayaan pasar terhadap kinerja dan strategi perseroan.

Okki memastikan pelaksanaan buyback tidak berdampak material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional BNI. Ia menyebut BNI memiliki posisi permodalan dan likuiditas yang memadai serta fundamental yang dinilai solid untuk jangka panjang.

Saham hasil buyback akan disimpan sebagai saham tresuri (treasury stock). Saham tersebut dapat dialihkan melalui penjualan kembali di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun di luar bursa, serta dapat dimanfaatkan untuk Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai dan/atau Pengurus perseroan.

Senada, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyampaikan buyback dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan investor, sekaligus mendukung stabilitas harga saham di BEI. Hera menyebut porsi saham beredar bebas (free float) tidak akan kurang dari 7,5% dari jumlah saham tercatat, dan jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan lebih dari 10%.

Pada penutupan perdagangan saham pekan ini, seluruh saham bank besar berada di zona merah. Penurunan terdalam selama sepekan dialami oleh BMRI, disusul BBRI, BBCA, dan BBNI. BMRI ditutup pada Rp 4.750, BBRI Rp 3.510, BBCA Rp 6.875, dan BBNI Rp 4.240.

Tekanan harga saham empat bank besar tersebut telah berlangsung sejak beberapa minggu sebelumnya. Andrey menilai pelemahan dipengaruhi oleh meningkatnya net sell asing yang terkait penurunan Fitch Ratings, kondisi global, serta depresiasi rupiah belakangan ini.