MALANG — Kemudahan transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dinilai membawa konsekuensi terhadap perilaku keuangan, terutama di kalangan generasi muda. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, menilai penggunaan QRIS berpotensi menurunkan kesadaran finansial, khususnya pada mahasiswa.
Menurut Rifqi, pembayaran digital dapat menciptakan ilusi pengeluaran yang tidak terasa. Jika transaksi tunai memberi sensasi kehilangan uang secara nyata, pembayaran digital berlangsung instan sehingga hambatan psikologis untuk berbelanja menjadi lebih kecil. Kondisi itu, kata dia, dapat mendorong perilaku belanja impulsif.
“Ketika menggunakan uang fisik, seseorang merasakan langsung uangnya berkurang. Pada pembayaran digital, proses yang instan membuat rasa kehilangan itu nyaris tidak muncul,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, kebiasaan tersebut kerap memicu fenomena latte factor, yakni pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dan dianggap sepele, tetapi berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti membeli kopi, jajanan, atau belanja harian yang impulsif berpotensi menggerus tabungan tanpa disadari.
Di sisi lain, Rifqi mengakui QRIS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, dan efisiensi waktu. Namun, ia menilai kelemahan utama terletak pada kontrol diri pengguna, terutama ketika dihadapkan pada promo cashback dan diskon.
“Promo dirancang untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Konsumen terdorong membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena merasa sedang mendapat keuntungan,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, ia menilai kebiasaan tersebut dapat membentuk mentalitas keuangan yang kurang disiplin. Nilai uang menjadi lebih abstrak dan sulit dikontrol, sehingga risiko defisit anggaran meningkat meski saldo digital masih terlihat aman.
Untuk mencegah hal itu, Rifqi menyarankan pengguna membatasi penggunaan aplikasi pembayaran digital. Salah satu caranya dengan memakai satu aplikasi khusus untuk transaksi harian agar pengeluaran lebih mudah dipantau dan dievaluasi.
“Biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan. Dengan begitu, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa bisa dikendalikan dan tujuan keuangan tetap terjaga,” pungkasnya.
Ia menegaskan teknologi pembayaran digital tetap dapat dimanfaatkan secara optimal selama diiringi perencanaan serta kesadaran finansial yang baik.

