BERITA TERKINI
Diskusi di Ruang Kuliah Soroti Monopoli Pasar dan Tantangan Akses Listrik di Indonesia

Diskusi di Ruang Kuliah Soroti Monopoli Pasar dan Tantangan Akses Listrik di Indonesia

Diskusi dalam mata kuliah Perekonomian Indonesia memunculkan sejumlah pertanyaan kritis terkait arah sistem ekonomi nasional dan pelaksanaannya di lapangan. Sejumlah mahasiswa menyoroti jarak antara konsep yang diajarkan secara formal dengan realitas yang mereka amati, mulai dari praktik monopoli pasar hingga persoalan akses listrik di beberapa daerah.

Salah satu pertanyaan datang dari Bagus Dwi Aldiansyah yang mempertanyakan mengapa Indonesia masih dihantui monopoli pasar serta ke mana kecenderungan sistem ekonomi Indonesia mengarah—kapitalisme, sosialisme, atau campuran. Pertanyaan ini mengantar diskusi pada pemahaman bahwa secara formal Indonesia menganut sistem ekonomi campuran yang dipadukan dengan nilai-nilai Pancasila.

Namun, dalam pembahasan kelas tersebut juga mengemuka catatan bahwa dominasi pasar oleh segelintir pemain besar dan kurangnya efisiensi di beberapa sektor BUMN dapat memunculkan ketimpangan baru. Kondisi itu membuat praktik sistem ekonomi kerap terlihat sebagai tarik-menarik kepentingan, alih-alih harmoni antara peran negara dan mekanisme pasar.

Pertanyaan lain disampaikan Khofidatus Sukriya yang menyoroti relevansi kebijakan dan tanggung jawab negara dalam layanan dasar. Ia mempertanyakan mengapa masih ada daerah yang kesulitan akses listrik, meski listrik dikendalikan oleh negara demi kesejahteraan rakyat.

Diskusi menilai persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan desain sistem, tetapi juga tantangan pelaksanaan. Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi hambatan geografis yang kompleks, ditambah keterbatasan infrastruktur, anggaran, serta birokrasi yang kerap berjalan lambat. Dalam konteks itu, niat kebijakan dapat terhambat sebelum menjangkau seluruh wilayah.

Menjelang akhir sesi, Emma Yunika memberikan ulasan yang menekankan bahwa sistem ekonomi Indonesia tidak dapat dipatok dalam satu kategori tunggal. Menurutnya, sistem tersebut merupakan hasil dari proses panjang—dipengaruhi sejarah, kebutuhan nasional, dan upaya mencari titik temu antara keadilan sosial serta efisiensi pasar.

Diskusi di ruang kuliah itu menegaskan bahwa ekonomi bukan hanya teori, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Pertanyaan mahasiswa menjadi pintu untuk melihat bagaimana kebijakan dan praktik ekonomi dapat berdampak nyata, termasuk pada harga di pasar maupun akses layanan dasar seperti listrik.