Tiongkok kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan terus menambah cadangan emasnya selama 17 bulan berturut-turut. Informasi ini muncul seiring laporan resmi yang menyebutkan jumlah cadangan emas meningkat secara konsisten, meski nilai cadangan tersebut dalam denominasi dolar AS sempat terlihat menurun pada laporan terbaru.
Penurunan nilai dalam dolar AS itu disebut bukan karena Tiongkok menghentikan pembelian, melainkan lebih dipengaruhi dinamika pasar logam mulia yang bergejolak. Dalam periode ketika ketegangan geopolitik meningkat—disebutkan salah satunya terkait memanasnya konflik AS-Iran—pasar mengalami tekanan dan terjadi likuidasi besar-besaran di sektor logam mulia. Di tengah kondisi tersebut, Tiongkok tetap menambah jumlah emas secara fisik.
Langkah berkelanjutan ini terjadi di tengah tantangan ekonomi global, mulai dari ketidakpastian inflasi, perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara maju, hingga tensi geopolitik yang belum mereda. Dalam konteks itu, strategi penambahan emas oleh bank sentral Tiongkok, People’s Bank of China (PBOC), dipandang sebagai bagian dari agenda jangka panjang.
Sejumlah alasan yang kerap dikaitkan dengan kebijakan ini adalah upaya diversifikasi cadangan devisa—yang selama ini banyak didominasi dolar AS—serta kebutuhan memperkuat ketahanan aset terhadap gejolak nilai mata uang. Emas juga sering diperlakukan sebagai penyimpan nilai dalam jangka panjang, terutama saat ketidakpastian ekonomi dan moneter meningkat. Selain itu, akumulasi emas dapat dibaca sebagai sinyal strategis untuk memperkuat posisi Tiongkok dalam sistem keuangan global.
Di pasar, konsistensi pembelian emas oleh pemain besar seperti Tiongkok berpotensi memengaruhi beberapa instrumen utama. Untuk emas terhadap dolar AS (XAU/USD), akumulasi yang berkelanjutan dapat dipersepsikan sebagai sinyal permintaan yang kuat dan berpotensi mendukung bias penguatan dalam jangka panjang, meski pergerakan harga tetap dipengaruhi faktor lain seperti perubahan sentimen risiko dan arah dolar AS.
Untuk dolar AS secara umum, diversifikasi cadangan yang mengurangi ketergantungan pada dolar berpotensi menekan permintaan dolar sebagai aset cadangan dalam jangka panjang. Dalam skenario seperti itu, pasangan mata uang mayor seperti EUR/USD dan GBP/USD dapat terdorong apabila pelemahan dolar terbentuk secara konsisten. Namun, dampaknya tidak bersifat instan dan tetap bergantung pada variabel makro lain.
Sementara itu, bagi yuan Tiongkok (CNY), strategi diversifikasi cadangan dapat dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada dolar. Meski demikian, pengaruhnya terhadap pergerakan nilai tukar yuan disebut sebagai proses jangka panjang dan tidak selalu langsung tercermin dalam pergerakan harian pasar.
Tren penambahan emas juga tidak hanya terjadi di Tiongkok. Disebutkan bahwa sejumlah bank sentral lain turut meningkatkan cadangan emas, yang mengindikasikan kecenderungan lebih luas di tengah ketidakpastian global untuk kembali melirik logam mulia sebagai aset yang dianggap lebih stabil.
Meski demikian, pergerakan harga aset finansial pada praktiknya tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Selain pembelian emas bank sentral, pasar juga dipengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral utama, data ekonomi makro seperti inflasi dan pertumbuhan, serta perkembangan geopolitik. Karena itu, akumulasi emas Tiongkok dapat menjadi salah satu katalis penting, tetapi bukan satu-satunya penentu arah pasar.
Secara keseluruhan, konsistensi Tiongkok menambah cadangan emas selama 17 bulan menandai strategi yang patut dicermati, baik dari sisi kebijakan cadangan devisa maupun implikasinya terhadap dinamika emas dan dolar AS. Dalam lanskap global yang masih sarat ketidakpastian, langkah ini dapat menjadi salah satu indikator bagaimana negara besar memposisikan asetnya menghadapi perubahan ekonomi dan geopolitik.