JAKARTA — Pasar saham Asia menguat pada awal perdagangan Selasa, memperpanjang kenaikan hari kedua di tengah ketidakpastian global terkait konflik di Timur Tengah serta agenda rapat bank sentral yang padat sepanjang pekan ini.
Investor masih menghitung dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dan Iran, sekaligus menilai kemungkinan respons kebijakan moneter di berbagai negara.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,9%. Penguatan dipimpin Kospi Korea Selatan yang melonjak 2,4%, sementara Nikkei 225 Jepang naik 0,3%. Di sisi lain, kontrak berjangka S&P 500 tercatat turun 0,3%.
Di Wall Street, indeks S&P 500 menguat 1,0% pada Senin dan memutus tren penurunan empat hari, ditopang saham sektor kecerdasan buatan. Meski demikian, indeks tersebut masih berada sekitar 3% di bawah level sebelum konflik pecah.
Kepala Riset Pepperstone Group di Melbourne, Chris Weston, menilai reli pasar saat ini lebih mencerminkan dorongan teknikal. Ia menyebut reli tersebut sebagai “dorongan posisi (positioning squeeze)” dan bukan awal tren baru, serta menyatakan masih enggan melakukan pembelian saat harga turun pada fase ini.
Sementara itu, harga minyak Brent naik 2,7% ke US$102,89 per barel setelah sejumlah sekutu AS menolak permintaan pengawalan tanker di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi global.
Perhatian pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga bank sentral. Bank Sentral Australia dijadwalkan mengumumkan kebijakan terbaru dengan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi 4,1%.
Keputusan tersebut menjadi pembuka rangkaian rapat bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan. Lembaga-lembaga itu diperkirakan mempertahankan suku bunga sambil mengevaluasi dampak konflik terhadap ekonomi global.
Bank for International Settlements mengingatkan pembuat kebijakan agar tidak bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga energi akibat konflik, serta menyarankan agar kenaikan tersebut dilihat sebagai guncangan pasokan yang bersifat sementara.
Pasar memperkirakan peluang 99,1% bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Steve Englander dari Standard Chartered menyatakan Komite Pasar Terbuka Federal kemungkinan menunda langkah hingga jelas apakah dampak utama konflik lebih besar terjadi pada output atau inflasi.
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,236%, sementara indeks dolar AS menguat tipis 0,1%.
Yen Jepang melemah mendekati level 160 per dolar, meski otoritas setempat telah memberikan peringatan. Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyampaikan inflasi inti bergerak menuju target 2%.
Di pasar komoditas dan aset digital, harga emas naik tipis 0,1%, bitcoin menguat 2,0%, dan ether naik 0,7%.