BERITA TERKINI
Bursa Saham Asia Melemah di Tengah Kekhawatiran Stagnasi dan Inflasi

Bursa Saham Asia Melemah di Tengah Kekhawatiran Stagnasi dan Inflasi

Pasar saham Asia bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko perlambatan ekonomi yang disertai tekanan inflasi. Sejumlah indeks utama di kawasan ditutup di zona merah.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 anjlok 3,4% dan berakhir pada 53.372,53 poin. Korea Selatan juga mencatat pelemahan, dengan indeks KOSPI turun 2,7% ke level 5.763,22 poin.

Tekanan jual turut terlihat di pasar Tiongkok. Indeks Hang Seng di Hong Kong merosot 2% menjadi 25.507,89 poin, sementara Shanghai Composite kehilangan 1,6% dan ditutup pada 3.996,44 poin. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 1,7% di tengah aksi jual investor.

Ahli strategi investasi Saxo Bank di Singapura, Charu Chanana, menilai konflik yang berlangsung kini berdampak langsung pada “sistem aliran” energi global. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko “inflasi stagnan”, yakni kondisi ketika pertumbuhan melemah namun inflasi tetap tinggi. Kekhawatiran itu mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Di tengah sentimen tersebut, Bank Sentral Jepang (BoJ) pada 19 Maret memutuskan mempertahankan suku bunga jangka pendek di 0,75%. Dalam pernyataan kebijakannya, BoJ memperingatkan volatilitas di Timur Tengah memicu ketidakstabilan ekstrem di pasar modal internasional. BoJ juga menyoroti lonjakan harga minyak sebagai beban besar bagi perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada impor bahan baku.

Sementara itu di Amerika Serikat, Federal Reserve (Fed) pada 18 Maret mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Ketua Fed Jerome Powell menyatakan ketidakpastian harga minyak serta kebijakan tarif Presiden Donald Trump membuat upaya menekan inflasi menjadi lebih sulit. Sejak pecahnya konflik di Timur Tengah, indeks dolar AS (DXY) dilaporkan naik 2,5% seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven.

Para analis memperingatkan, apabila gangguan energi di kawasan Teluk berlanjut, gelombang inflasi baru berisiko menghambat upaya pemulihan ekonomi global. Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE) yang dijadwalkan berlangsung hari ini.