Bursa saham China dan Hong Kong melemah pada Rabu (18/3/2026) seiring sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Ketidakpastian yang dipicu konflik di Timur Tengah turut menekan sentimen pasar.
Di China, indeks saham unggulan CSI300 turun 0,3 persen saat jeda perdagangan siang, sementara Indeks Komposit Shanghai melemah 0,4 persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 0,17 persen.
Tekanan terbesar di pasar China datang dari sektor properti dan energi. Indeks saham properti China turun 2,1 persen setelah sejumlah pengembang melaporkan kerugian besar. Saham sektor energi juga melemah 2,1 persen.
Di Hong Kong, pelemahan dipicu anjloknya saham Tencent Music hingga 23 persen. Pergerakan ini menekan indeks teknologi Hang Seng Tech yang turun 0,8 persen.
Pelaku pasar menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve yang diumumkan pada hari yang sama. Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, namun investor mencermati arah kebijakan ke depan, terutama terkait inflasi serta dampak konflik geopolitik.
Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor tambahan yang membebani pasar. Penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar, terutama karena China memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari kawasan tersebut, termasuk minyak dari Iran.
Analis Nanhua Futures menilai investor semakin waspada terhadap risiko eksternal. Dalam catatannya, analis menyebut investor memantau harga minyak dengan cermat dan berhati-hati terhadap risiko pasar yang dapat muncul akibat perubahan kebijakan Federal Reserve maupun kejadian tak terduga dalam perang.