Bursa saham Asia melemah pada awal pekan ketika pelaku pasar menunggu perkembangan terbaru terkait tenggat waktu keputusan Presiden AS Donald Trump mengenai langkah AS terhadap Iran. Ketidakpastian yang meningkat selama tiga minggu terakhir disebut membuat investor cenderung menahan diri untuk mengambil posisi baru, sehingga likuiditas pasar menipis.
“Menarik diri dari perang ini bukan keputusan Trump semata,” ujar Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak. Ia menilai ketidakpastian yang berkepanjangan membuat pelaku pasar enggan membeli. “Bahkan jika orang tidak menjual, mereka tidak akan membeli—dan jika tidak ada penawaran beli, maka akan tercipta kekosongan pasar,” katanya.
Gejolak perang AS-Iran telah mengguncang pasar global. Pekan lalu, saham dan obligasi mengalami aksi jual serentak. Imbal hasil Treasury AS berada di level tertinggi dalam beberapa bulan setelah tiga pekan berturut-turut harga obligasi melemah. Pelemahan dipimpin obligasi tenor pendek, dengan imbal hasil Treasury dua tahun naik 18 basis poin menjadi 3,90%, seiring tekanan di pasar obligasi Eropa karena investor mengantisipasi kenaikan suku bunga.
Tekanan di pasar AS meningkat pada Jumat ketika pelaku pasar mulai memperhitungkan peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Lonjakan harga minyak dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi baru. Pasar juga mengantisipasi langkah serupa dari bank sentral di Jepang, Eropa, dan Inggris, meski perang pada saat yang sama membebani prospek pertumbuhan ekonomi global.
Kebuntuan di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia—memperdalam krisis pasokan yang telah berdampak pada harga bahan bakar, biaya pupuk, dan produksi pangan. Lalu lintas di selat tersebut dilaporkan praktis terhenti sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Setelah penutupan pasar pada Jumat, Trump mengindikasikan keinginan meredakan konflik melalui unggahan di media sosial. Ia menyatakan mempertimbangkan untuk mengurangi operasi militer di Iran dan mengklaim AS “sangat dekat” mencapai tujuannya. Namun, ancaman lanjutan untuk menyerang pembangkit listrik serta janji balasan dari Iran dinilai menunjukkan minimnya kemajuan menuju gencatan senjata.
“Ini awal yang relatif lunak untuk aset berisiko, namun mungkin cukup terkendali mengingat ultimatum yang membayangi pasar,” kata Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group di Melbourne.
Kombinasi risiko kenaikan inflasi dan potensi perlambatan pertumbuhan menekan aset berisiko. Indeks S&P 500 turun 1,5% pada Jumat dan mencatat penurunan selama empat pekan berturut-turut, terpanjang dalam setahun. Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun melonjak 13 basis poin menjadi 4,38%, tertinggi sejak akhir Juli.
Kepala teknisi pasar BTIG, Jonathan Krinsky, menyebut S&P 500 berada “jauh di bawah” rata-rata pergerakan 200 hari dan menguji level terendah kuartal keempat di 6.521. Ia menambahkan, “Secara anekdot, kami masih melihat pelaku pasar lebih khawatir kehilangan reli akibat de-eskalasi dibandingkan risiko penurunan yang signifikan.” Namun, menurutnya, risiko penurunan masih lebih besar dibanding potensi kenaikan.
Di Asia, tekanan terlihat pada sejumlah indeks utama. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3% pada pukul 09.04 waktu Tokyo. Kontrak berjangka Hang Seng melemah 2,1%, indeks Topix Jepang turun 2,6%, dan indeks S&P/ASX 200 Australia merosot 1,6%. Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 turun 2%.
Di pasar mata uang, indeks dolar Bloomberg relatif tidak berubah. Euro turun 0,1% menjadi US$1,1559, yen Jepang stabil di 159,13 per dolar, dan yuan offshore relatif stabil di 6,9016 per dolar.
Aset kripto bergerak terbatas, dengan Bitcoin turun 0,3% menjadi US$67.979,57 dan Ether turun 0,2% menjadi US$2.055,41.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,40%. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun naik 6 basis poin menjadi 2,320%, sementara imbal hasil obligasi Australia tenor 10 tahun naik 13 basis poin menjadi 5,16%.
Di komoditas, minyak WTI naik 0,4% menjadi US$98,62 per barel. Emas spot turun 1,2% menjadi US$4.438,15 per ons.