Bursa saham Asia kompak melemah pada perdagangan Kamis (19/3/2026) pagi, di tengah kekhawatiran investor terhadap eskalasi besar konflik AS dan Israel dengan Iran serta meningkatnya risiko tekanan inflasi dari lonjakan harga energi.
Pada pukul 08.32 WIB, indeks Nikkei 225 turun 1.537,72 poin atau 2,78% ke 53.719,38. Hang Seng melemah 472,52 poin atau 1,80% ke 5.770,57. Taiex turun 443,40 poin atau 1,29% ke 33.900,84, sementara Kospi merosot 156,32 poin atau 2,63% ke 5.767,67.
Di kawasan lain, ASX 200 turun 132,94 poin atau 1,54% ke 8.507,70. Straits Times melemah 56,18 poin atau 1,13% ke 4.945,80, sedangkan FTSE Malaysia turun 4,87 poin atau 0,28% ke 1.724.
Pelemahan pasar terjadi setelah konflik memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global. Kepala strategi investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, menilai eskalasi terbaru terasa seperti titik balik bagi pasar karena dampaknya tidak lagi sebatas perkembangan militer atau isu penutupan Selat Hormuz.
“Sekarang konflik ini telah menyentuh sistem energi global. Yang membuat pasar gelisah sekarang adalah meningkatnya risiko stagflasi... Ini berarti ini bukan lagi hanya cerita geopolitik tetapi juga cerita makro,” kata Chanana, dikutip Reuters, Kamis (19/3/2026).
Iran menuduh Israel menyerang fasilitasnya di ladang gas South Pars pada Rabu, dan membalas dengan menyatakan akan menyerang target minyak dan gas di seluruh kawasan Teluk. Iran juga dilaporkan menembakkan rudal ke Qatar dan Arab Saudi.
Ketegangan yang menyasar infrastruktur energi turut mendorong kenaikan harga komoditas. Minyak mentah berjangka AS naik lebih dari 3% menjadi US$ 99,39 per barel. Gas alam naik lebih dari 5%, sementara Brent berjangka menguat ke US$ 111,19 per barel pada perdagangan awal.
Di sisi kebijakan moneter, pekan ini dipenuhi agenda pertemuan bank sentral global. Investor mencermati pernyataan otoritas moneter untuk menilai dampak perang di Timur Tengah terhadap inflasi dan pertumbuhan, dengan Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England (BoE), dan Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan mengumumkan kebijakan pada hari yang sama.
BOJ, seperti ECB dan BoE, secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga. Perhatian pasar tertuju pada pernyataan Gubernur Kazuo Ueda terkait arah kebijakan ke depan, terutama ketika yen Jepang berada di dekat level psikologis 160 per dolar AS.
Kepala ekonom Asia-Pasifik Natixis, Alicia Garcia Herrero, memperkirakan BOJ akan tetap mempertahankan sikap hawkish, dengan Gubernur Ueda kemungkinan menjaga bias pengetatan untuk meredam potensi gelombang inflasi impor baru.
Sementara itu, Federal Reserve dan Bank of Canada pada Rabu menunjukkan nada hawkish di tengah lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah. Bank sentral Australia pada Kamis juga menyatakan konflik dapat memicu guncangan internasional yang parah. Reserve Bank of Australia diketahui menaikkan suku bunga pada Selasa.
Ahli strategi investasi global Nuveen, Laura Cooper, mengatakan pertanyaan utama bagi pembuat kebijakan adalah apakah kenaikan biaya energi berisiko mengganggu ekspektasi inflasi atau justru hanya menjadi guncangan sementara. Menurutnya, kenaikan suku bunga tidak dapat menambah pasokan minyak, tetapi dapat menekan permintaan, yang berpotensi memperdalam perlambatan pertumbuhan. “Sebagian besar penyesuaian terhadap guncangan energi terjadi secara alami,” ujarnya.