Bursa saham Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Jumat (20/3/2026) di tengah fluktuasi tajam harga minyak seiring eskalasi konflik di Timur Tengah, serta keputusan China yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 0,5% dan berpeluang menguat lebih dari 5% secara mingguan, didorong penguatan saham-saham sektor teknologi. Namun, pergerakan berbeda terlihat di kawasan lain. Straits Times Index melemah 0,3%, sementara S&P/ASX 200 turun tipis 0,2%. Pasar saham Jepang tutup karena hari libur nasional. Di sisi lain, kontrak berjangka Nifty 50 India menguat 0,5%, mencerminkan sentimen yang relatif lebih positif.
Sentimen regional cenderung tidak menentu setelah Wall Street ditutup melemah, dipicu kembali oleh kekhawatiran inflasi seiring kenaikan harga energi. Meski demikian, kontrak berjangka saham Amerika Serikat terpantau menguat selama sesi perdagangan Asia.
Pergerakan harga minyak menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar. Harga minyak sempat melonjak mendekati USD119 per barel pada Kamis (19/3/2026) karena kekhawatiran potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz. Namun, harga kemudian terkoreksi setelah sebagian kekhawatiran mereda, dan kembali melemah pada perdagangan Asia.
Lonjakan harga energi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, terutama bagi negara-negara Asia yang merupakan importir energi utama.
Dari China, bank sentral kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya untuk bulan ke-10 berturut-turut. Loan Prime Rate (LPR) tenor satu tahun ditahan di level 3%, sementara tenor lima tahun tetap di 3,50%, sesuai ekspektasi pasar. Meski begitu, indeks saham China cenderung melemah, dengan Shanghai Composite turun 0,3% dan Hang Seng Index di Hong Kong terkoreksi 0,7%.
Dari sisi korporasi, saham Alibaba yang tercatat di Hong Kong anjlok sekitar 5% setelah perusahaan melaporkan penurunan laba, yang dipengaruhi tingginya belanja serta melemahnya kinerja bisnis e-commerce.