BERITA TERKINI
Bukittinggi di Persimpangan: Menata Ruang Kota di Tengah Ketergantungan Ekonomi Pusat

Bukittinggi di Persimpangan: Menata Ruang Kota di Tengah Ketergantungan Ekonomi Pusat

Bukittinggi disebut sedang berada di persimpangan yang menentukan arah pertumbuhannya. Di satu sisi, kota ini ingin menjadi lebih tertib, nyaman, dan berdaya saing untuk masa depan. Di sisi lain, kehidupan ekonominya bertumpu pada perdagangan kecil, jasa, serta arus kunjungan yang padat. Karena itu, setiap kali kebijakan penataan ruang dilakukan, muncul kegelisahan di masyarakat: apakah penataan akan memperkuat kota secara menyeluruh atau justru menekan ruang usaha warga.

Kegelisahan tersebut dinilai bukan semata penolakan terhadap perubahan. Hal itu mencerminkan struktur ekonomi Bukittinggi yang masih terkonsentrasi dan sensitif terhadap pergeseran ruang. Bukittinggi bukan kota industri besar, juga bukan simpul manufaktur atau ekspor. Perekonomian kota ini bertumpu pada perdagangan, jasa, pendidikan, dan pariwisata. Dalam kondisi seperti itu, ruang memiliki nilai ekonomi yang nyata, sehingga kebijakan tata kota hampir selalu berimplikasi langsung pada perputaran pendapatan warga.

Persoalan mendasar yang disorot bukan hanya soal penertiban, melainkan tingginya konsentrasi aktivitas di pusat kota. Perdagangan, wisata, kuliner, parkir, hingga aktivitas informal bertemu dalam radius yang terbatas. Dengan wilayah yang tidak luas dan topografi berbukit, penumpukan tersebut menimbulkan tekanan ganda, yakni kepadatan lalu lintas sekaligus ketergantungan ekonomi yang berlebihan pada satu kawasan.

Ketika hampir seluruh aktivitas bertumpu pada satu episentrum, setiap intervensi kebijakan terasa signifikan. Penataan trotoar dapat dipersepsikan sebagai potensi penurunan omzet. Penertiban parkir dikhawatirkan mengurangi arus pembeli. Relokasi pedagang pun bisa dianggap memutus keterhubungan dengan arus wisatawan. Sensitivitas ini menunjukkan struktur ekonomi kota masih sangat terpusat.

Dari situ muncul kesan adanya pertukaran antara keteraturan ruang dan dinamika ekonomi. Namun kerentanan tersebut dipandang tidak semata akibat kebijakan penataan, melainkan karena distribusi aktivitas yang belum merata. Kota yang berkelanjutan, menurut tulisan tersebut, bukan kota yang terlalu padat di satu titik dan kurang berkembang di titik lain, melainkan kota yang mampu menyebarkan denyut ekonominya secara proporsional.