BERITA TERKINI
Bank Kurangi Agresivitas Pencadangan, Fokus Jaga Kualitas Kredit di Tengah Ketidakpastian Global

Bank Kurangi Agresivitas Pencadangan, Fokus Jaga Kualitas Kredit di Tengah Ketidakpastian Global

Sejumlah bank menyatakan tidak lagi agresif menambah pencadangan kredit. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, fokus perbankan bergeser pada upaya menjaga kualitas aset melalui ekspansi kredit yang lebih selektif dan berbasis risiko.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) pada Februari 2026 berada di level 2,17%, naik dari 2,14% pada Januari 2026. Meski meningkat secara bulanan, angka tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di 2,22%.

Pada saat yang sama, rasio kredit berisiko atau loan at risk (LaR) tercatat meningkat dari 9,01% pada Januari 2026 menjadi 9,24% pada Februari 2026.

Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Setiyo Wibowo mengatakan strategi bank saat ini tidak semata mempertebal pencadangan, melainkan menjaga kualitas aset sejak awal. Menurutnya, dalam situasi ketidakpastian global, BTN tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dengan ekspansi yang selektif dan berkualitas.

Setiyo menyebut rasio pencadangan (coverage ratio) BTN dijaga pada kisaran 125%–140% dan dinilai sudah optimal karena portofolio kredit perumahan memiliki underlying asset yang jelas serta relatif lebih tahan terhadap gejolak. Ia juga menyampaikan beban pencadangan saat ini cenderung lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya, sejalan dengan perbaikan kualitas kredit, terutama dari sisi flow rate dan delinquencies.

Ia menambahkan, Loan at Risk (LaR) BTN menunjukkan tren membaik seiring efektivitas strategi collection dan normalisasi portofolio pascarestrukturisasi. Untuk tahun ini, BTN menargetkan coverage ratio tetap berada di kisaran 125%–140%, sementara LaR diarahkan turun bertahap menuju level yang lebih sehat di kisaran high teens.

Setiyo menilai ke depan beban pencadangan tidak lagi menjadi tekanan utama terhadap kinerja keuangan bank selama kualitas ekspansi tetap terjaga. Meski demikian, BTN tetap menerapkan forward-looking provisioning untuk mengantisipasi risiko dari dinamika global. Dalam laporan keuangan, BTN masih mencatat kenaikan beban pencadangan atau biaya provisi per Februari 2026 sebesar 12,82% menjadi Rp 681 miliar.

Di sisi lain, Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah menyampaikan tren pencadangan yang semakin terkendali seiring perbaikan kualitas kredit. Ia mengatakan bank menjaga keseimbangan antara kehati-hatian dan profitabilitas melalui pendekatan selektif berbasis risiko.

Menurut Efdinal, strategi bank difokuskan pada penyaluran kredit yang lebih selektif, peningkatan monitoring portofolio, serta optimalisasi penanganan kredit bermasalah.

Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyatakan kualitas aset bank masih terjaga dengan baik. Ia menyebut rasio Loan at Risk (LaR) CIMB Niaga relatif rendah di kisaran 6%. Namun, tantangan menurutnya masih berada pada pertumbuhan kredit yang terbatas karena permintaan belum kuat.

Lani menambahkan, pihaknya tetap waspada dengan melakukan stress test secara berkala, mengikuti perkembangan kondisi mikro, makro, dan global, termasuk mempertimbangkan kebutuhan tambahan pencadangan. Berdasarkan laporan keuangan, CIMB Niaga mencatat kenaikan beban pencadangan atau biaya provisi per Februari 2026 sebesar 14,10% menjadi Rp 276 miliar.

Sebelumnya, OJK menilai eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan risiko kredit bermasalah, meski dampak langsung ke perbankan nasional dinilai masih terbatas. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan eksposur perbankan Indonesia ke kawasan tersebut relatif kecil.

Meski begitu, Dian mengingatkan Indonesia sebagai ekonomi terbuka tetap rentan terhadap dampak tidak langsung, seperti kenaikan harga energi yang dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi, dan menekan daya beli. Kondisi tersebut berpotensi menekan profitabilitas dan kemampuan bayar debitur, terutama pada sektor sensitif seperti transportasi dan manufaktur, serta segmen UMKM dan konsumsi.

OJK menegaskan ketahanan perbankan masih kuat. OJK juga terus memperketat pengawasan, mendorong penerapan prinsip kehati-hatian, serta melakukan stress test untuk mengantisipasi risiko ke depan. Dian menyatakan hasil stress test menunjukkan permodalan perbankan masih memadai untuk menghadapi berbagai tekanan.