BERITA TERKINI
Bank Indonesia Buka Peluang Melanjutkan Pelonggaran Suku Bunga Sepanjang 2019

Bank Indonesia Buka Peluang Melanjutkan Pelonggaran Suku Bunga Sepanjang 2019

Bank Indonesia (BI) menyatakan masih membuka peluang untuk melonggarkan kebijakan moneter kembali sepanjang sisa tahun 2019. Pernyataan ini disampaikan setelah BI melakukan penurunan suku bunga acuan pada Juli lalu sebagai langkah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menjelaskan, potensi pelonggaran kebijakan moneter kembali muncul seiring dengan langkah The Fed yang memangkas suku bunga acuan di Amerika Serikat sebesar 0,25 persen ke kisaran 2 persen-2,25 persen. Kebijakan The Fed dianggap sebagai upaya normal untuk menyesuaikan kondisi ekonomi AS saat ini.

"Ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif masih terbuka sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi lebih lanjut," ujar Onny saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (2/8/2019).

Kebijakan Moneter dan Makroprudensial

BI menilai pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed tepat dilakukan dalam konteks penurunan ketidakpastian pasar keuangan global dan mulai terkendalinya stabilitas eksternal. Sementara itu, BI tetap menjaga kebijakan makroprudensial agar tetap akomodatif guna mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian.

Selain itu, penguatan kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan juga menjadi fokus BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada Juli 2019, BI menurunkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Penyesuaian serupa dilakukan pada suku bunga deposit facility menjadi 5 persen dan lending facility menjadi 6,5 persen. Sebelumnya, pada Juni 2019, BI juga menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) sebesar 50 basis poin dengan harapan dapat menambah likuiditas perbankan hingga Rp 25 triliun.

"Strategi operasi moneter tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang dan memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif," tambah Onny.

Perkembangan Inflasi dan Dampaknya

Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, menilai data inflasi nasional yang sesuai dengan ekspektasi dapat menjadi dasar bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga. Inflasi sepanjang Januari-Juli 2019 tercatat sebesar 2,36 persen dan diperkirakan akan tetap terkendali hingga akhir tahun sesuai target pemerintah sebesar 2,5-4,5 persen.

"BI selalu menyebut inflasi sebagai faktor utama yang memungkinkan bank sentral melonggarkan kebijakan moneter. Hal ini menjadi sinyal bahwa BI masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga," jelas Satria.

Penurunan suku bunga BI dinilai dapat meningkatkan gairah ekonomi domestik, karena biasanya akan diikuti oleh penurunan bunga kredit. Kondisi ini memungkinkan masyarakat meningkatkan konsumsi dan korporasi melakukan ekspansi usaha.

Kondisi Nilai Tukar Rupiah

Pernyataan The Fed yang menahan laju pelonggaran moneter mendorong investor untuk menempatkan modalnya pada instrumen dollar AS, yang berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Jumat, rupiah tercatat berada di level Rp 14.203 per dollar AS, melemah 177 poin sejak 31 Juli 2019.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah memastikan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah ini bersifat sementara. BI akan terus melakukan intervensi di pasar spot, pasar obligasi, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.