Dorongan tokenisasi aset kembali menguat seiring langkah Apex—penyedia layanan dana yang mendukung aset senilai US$3,5 triliun—yang semakin fokus pada penerapan aset berbasis blockchain. Salah satu contoh penerapannya terlihat pada Coinbase Bitcoin Yield Fund, yang menggunakan kelas saham bertoken untuk membawa akses dan pengelolaan kepemilikan dana ke ranah onchain.
Dana imbal hasil bitcoin tersebut memungkinkan strategi yang mencakup penjualan opsi call atau partisipasi dalam skema peminjaman. Dengan struktur ini, dana dapat mengelola pendekatan menghasilkan imbal hasil melalui mekanisme yang disebutkan, meski detail operasional lainnya tidak dijabarkan.
Tokenisasi aset sendiri dipandang berpotensi menjadi pasar bernilai triliunan dolar. Perkiraan yang beredar mencakup proyeksi McKinsey sebesar US$2 triliun pada 2030, hingga target US$18,9 triliun pada 2033 dari BCG dan Ripple.
Apex dalam beberapa waktu terakhir memperkuat posisinya di bidang ini melalui akuisisi Tokeny pada tahun lalu. Tokeny dikenal sebagai spesialis yang telah memfasilitasi tokenisasi lebih dari US$32 miliar aset. Apex juga menyatakan rencana untuk mentokenisasi dana senilai US$100 miliar dengan menggunakan T-REX Ledger pada Juni 2027, yang ditujukan untuk mengelola kepemilikan dan kepatuhan di berbagai blockchain.
Dalam kasus Coinbase Bitcoin Yield Fund, kelas saham bertoken dibuat menggunakan standar token ERC-3643. Standar ini memungkinkan pemeriksaan investor dikodekan langsung ke dalam token, sehingga hanya investor yang telah disetujui yang dapat memegang atau mentransfer aset tersebut. Identitas investor diikat pada setiap dompet melalui proses onboarding khusus.
Pengaturan tersebut menggantikan pemeriksaan kepatuhan manual dengan aturan otomatis. Jika sebuah dompet tidak disetujui, transaksi akan gagal. Pendekatan ini dinilai dapat mengurangi gesekan bagi investor institusional dalam mengakses dan memindahkan posisi dana.
Dana tersebut juga disebut memiliki versi non-AS.