BERITA TERKINI
Survei BI: Aktivitas Dunia Usaha Masih Tumbuh pada Kuartal I-2026, tetapi Melambat

Survei BI: Aktivitas Dunia Usaha Masih Tumbuh pada Kuartal I-2026, tetapi Melambat

Kinerja kegiatan dunia usaha pada kuartal I-2026 masih berada di zona positif, meski melambat dibandingkan periode sebelumnya. Perlambatan ini tercermin dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) yang mencatat nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 10,11% pada kuartal I-2026.

Angka tersebut turun dibandingkan SBT kuartal IV-2025 yang berada di level 10,61%. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Diana Dewi, menilai tren ini sejalan dengan hasil berbagai survei lain yang menunjukkan aktivitas usaha mulai melambat pada awal 2026 dibandingkan penghujung 2025.

Diana menyebut salah satu faktor yang memengaruhi perlambatan adalah kondisi keuangan yang dinilai belum sepenuhnya pulih, baik di dalam negeri maupun secara global. Ia juga menyoroti ketidakstabilan global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah serta terbatasnya pembukaan Selat Hormuz, yang disebut turut mengganggu rantai distribusi logistik.

“Dampak konflik di Timur Tengah dan masih terbatasnya pembukaan Selat Hormuz masih menjadi salah satu penyebabnya, di mana distribusi rantai logistik masih terkendala,” ujar Diana, Jumat (17/4/2026).

Selain faktor eksternal, ia menilai pelemahan daya beli masyarakat menjadi penyebab utama perlambatan. Menurutnya, kondisi keuangan yang belum kuat membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan cenderung memprioritaskan kebutuhan utama.

Dampak penurunan daya beli, lanjut Diana, terasa langsung pada dunia usaha, salah satunya melalui penumpukan barang di tingkat perusahaan. Kondisi ini mendorong pelaku usaha menurunkan tingkat produksi, yang pada akhirnya menekan arus kas (cash flow) perusahaan.

Di sisi investasi, Diana menyampaikan nilai investasi kuartal I-2026 diproyeksikan sebesar Rp 497 triliun, hanya sedikit meningkat dibandingkan realisasi kuartal IV-2025 yang sebesar Rp 496,9 triliun. Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut belum sepenuhnya terealisasi pada periode berjalan.

Meski demikian, Diana menyatakan tetap melihat prospek usaha dengan optimisme karena masih terdapat peluang di berbagai sektor. Ia menilai pemulihan yang lebih kuat memerlukan dukungan regulasi yang memadai serta stabilitas geopolitik global.

“Perlu political will dari pemerintah untuk menggenjot daya beli masyarakat, menstabilkan perekonomian, dan mendorong masuknya investasi,” katanya.

Saat ini, menurut Diana, mayoritas pelaku usaha masih bersikap hati-hati dengan pendekatan wait and see. Mereka cenderung menahan ekspansi maupun pembukaan lini bisnis baru hingga kondisi ekonomi dinilai lebih stabil. Ia juga berharap konflik di sejumlah kawasan, khususnya di Timur Tengah, dapat mereda dan jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz kembali beroperasi normal agar distribusi global lebih lancar.