Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja kegiatan dunia usaha pada kuartal I 2026 tetap terjaga meski melambat. Hal itu tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, mengatakan mayoritas lapangan usaha mencatat kinerja positif. Sektor yang menjadi penopang antara lain jasa keuangan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; industri pengolahan; serta perdagangan besar dan eceran termasuk reparasi mobil dan sepeda motor.
Menurut Anton, perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat selama berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) pada kuartal I 2026, seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, periode Ramadan dan Idul Fitri 1447 H. Selain itu, dimulainya musim panen sejumlah komoditas pertanian turut mendorong aktivitas usaha.
Dari sisi kapasitas, BI mencatat kapasitas produksi terpakai pada kuartal I 2026 meningkat menjadi 73,33 persen, lebih tinggi dibandingkan 73,15 persen pada kuartal IV 2025. Peningkatan ini ditopang antara lain oleh pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kapasitas terpakai 72,53 persen serta industri pengolahan sebesar 70,31 persen.
Namun, terdapat lapangan usaha yang tercatat melambat, seperti pengadaan listrik dengan kapasitas terpakai 80,49 persen, pertambangan dan penggalian 68,55 persen, serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang 74,74 persen, sejalan dengan aktivitas usahanya.
Dengan kinerja pada kuartal I, responden memperkirakan kegiatan usaha pada kuartal II 2026 meningkat dengan SBT 14,80 persen. Peningkatan diperkirakan terutama berasal dari pertanian, kehutanan, dan perikanan seiring berlanjutnya musim panen komoditas pangan; pertambangan dan penggalian yang didukung penurunan curah hujan; serta konstruksi seiring dimulainya pengerjaan sejumlah proyek.
BI juga mencatat kondisi keuangan perusahaan masih baik, meski sedikit menurun. Likuiditas pada kuartal I 2026 tercermin dari Saldo Bersih (SB) likuiditas sebesar 17,05 persen, lebih rendah dibandingkan 18,72 persen pada kuartal IV 2025. Persentase responden yang menilai likuiditas “lebih baik” tercatat 23,98 persen, turun dari 25,93 persen pada kuartal sebelumnya.
Rentabilitas atau kemampuan perusahaan mencetak laba juga dinilai tetap baik. SB indikator rentabilitas pada kuartal I 2026 sebesar 14,87 persen, turun dari 16,51 persen pada kuartal IV 2025. Sementara itu, responden yang menyebut rentabilitas “lebih baik” tercatat 24,04 persen, menurun dibandingkan 25,90 persen pada kuartal sebelumnya.
Di sisi pembiayaan, responden menilai akses kredit perbankan pada kuartal I 2026 lebih mudah. Hal ini tercermin dari SB akses kredit sebesar 4,84 persen, meningkat dari 2,93 persen pada kuartal IV 2025. Persentase responden yang menjawab akses kredit “lebih mudah” juga naik menjadi 8,77 persen dari 6,57 persen.
Selain itu, BI melihat adanya peningkatan tekanan harga jual pada kuartal I 2026. SBT harga jual tercatat 15,82 persen, lebih tinggi dibandingkan 12,37 persen pada kuartal sebelumnya. Peningkatan terutama bersumber dari perdagangan besar dan eceran termasuk reparasi mobil dan motor dengan SBT 4,65 persen, diikuti pertanian, kehutanan, dan perikanan 4,07 persen, serta industri pengolahan 2,94 persen.
Responden menilai kenaikan harga jual tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya biaya bahan baku/material dan biaya operasional lainnya. Untuk kuartal II 2026, tekanan harga jual diperkirakan melambat dengan SBT 12,81 persen, lebih rendah dibandingkan kuartal I. Perlambatan terutama diperkirakan terjadi pada pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 3,56 persen) serta perdagangan besar dan eceran termasuk reparasi mobil dan motor (SBT 3,16 persen), sejalan dengan penurunan biaya operasional dan biaya promosi.