Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut ada tiga kontraktor kontrak kerja sama migas (KKKS/K3S) yang dinilai paling masif melakukan pemboran ratusan sumur sepanjang 2021.
Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan tiga KKKS tersebut adalah PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), PT Pertamina EP (PEP), dan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). “Yang agresif mengebor ya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), PT Pertamina EP (PEP), dan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM)….itulah top three nya. Disebut top three karena mereka ngebor ratusan sumur,” ujar Julius pada Jumat (15/10/2021) di Jakarta.
Pernyataan itu dibenarkan oleh Sekretaris Perusahaan Sub Holding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Arya Paramita. Ia menyampaikan, sejak awal 2021 hingga awal Oktober 2021, Pertamina telah menyelesaikan pemboran 204 sumur pengembangan untuk mendukung peningkatan kontribusi produksi migas nasional tahun ini dan tahun depan.
Menurut Arya, pemboran paling banyak dilakukan di regional Sumatera dan regional Kalimantan. “Dari awal tahun 2021 sampai dengan awal Oktober 2021, Pertamina telah menyelesaikan pemboran sebanyak 204 sumur pengembangan guna mendukung peningkatan kontribusi produksi migas nasional tahun ini dan tahun depan. Pemboran paling banyak dilakukan di regional Sumatera dan regional Kalimantan,” katanya pada Jumat (15/10/2021) di Jakarta.
Di sisi lain, SKK Migas juga mencatat kebijakan insentif untuk industri hulu migas sepanjang 2020 hingga Agustus 2021 telah memberikan dampak positif. Dalam catatan tersebut, insentif disebut berkontribusi pada penambahan cadangan migas sebesar 465,5 MMBOE dan penambahan penerimaan negara sekitar US$2,9 miliar atau setara Rp42 triliun.
Insentif hulu migas juga dinilai mendorong penambahan investasi pemboran dan fasilitas produksi sebesar US$3,5 miliar atau sekitar Rp50 triliun. Investasi itu meliputi pemboran 88 sumur pengembangan, 15 sumur injeksi, 32 reaktivasi sumur, satu sumur step out, serta kegiatan konstruksi dan pemasangan fasilitas produksi.
Selain itu, seluruh insentif tersebut disebut meningkatkan daya saing hulu migas Indonesia, dengan KKKS memperoleh manfaat pendapatan sebesar US$1,5 miliar atau sekitar Rp21,75 triliun.

