Bursa saham Asia menutup perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, di zona hijau dengan penguatan pada sebagian besar indeks utama. Sentimen pasar ditopang reli saham sektor teknologi, terutama yang terkait semikonduktor dan pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,76 persen, mencerminkan menguatnya minat investor pada saham teknologi yang kembali menjadi penggerak utama di kawasan.
Di Jepang, Nikkei 225 melonjak 2,20 persen ke level 58.583, sementara Topix menguat 0,71 persen ke 3.843. Penguatan ini sejalan dengan kenaikan saham teknologi dan manufaktur berorientasi ekspor, di tengah meningkatnya permintaan terhadap rantai pasok semikonduktor.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 1,91 persen ke 6.083. Pergerakan tersebut ditopang saham produsen chip memori seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang disebut mencatat apresiasi signifikan dalam beberapa bulan terakhir, seiring kekurangan pasokan chip global dan peningkatan arus kas di ekosistem AI.
Sementara itu, di Taiwan, indeks Taiex menguat 2,05 persen ke 35.413. Kenaikan ini mencerminkan minat investor terhadap saham teknologi dan semikonduktor yang memiliki eksposur besar terhadap pengembangan AI global.
Penguatan juga terjadi di pasar lain. Indeks ASX 200 Australia naik 1,17 persen ke 9.128. Di Hong Kong, Hang Seng bertambah 0,66 persen ke 26.765. Bursa China daratan turut menguat, dengan Shanghai Composite naik 0,72 persen ke 4.147, Shenzhen Composite menguat 1,29 persen ke 14.475, dan CSI 300 bertambah 0,60 persen ke 4.735.
Dari sisi sentimen, minat terhadap sektor AI kembali menguat setelah perusahaan rintisan berbasis di San Francisco, Anthropic, meluncurkan fitur baru yang memperluas penggunaan plugin AI untuk pelanggan korporasi. Perkembangan ini mendorong perhatian investor ke saham-saham yang terhubung dengan infrastruktur komputasi, semikonduktor, dan pusat data.
Dalam beberapa pekan terakhir, saham-saham terkait AI sempat berfluktuasi di tengah kekhawatiran pasar mengenai besarnya belanja modal yang dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam pertumbuhan laba. Namun, pergerakan terbaru menunjukkan kembali meningkatnya aliran dana ke sektor teknologi, terutama pada perusahaan di hulu rantai pasok chip memori dan komponen pendukung AI.
Pasar juga mencermati pernyataan pejabat Federal Reserve Amerika Serikat. Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyampaikan bahwa pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda stabilisasi.
Tim analis ANZ menilai mayoritas anggota The Fed cenderung menunggu kemajuan lebih lanjut pada inflasi sebelum menurunkan suku bunga. Mereka memproyeksikan pelonggaran dimulai pada kuartal kedua, kemungkinan pada Juni, dengan total pemangkasan sekitar 75 basis poin sepanjang tahun ini.
Di pasar valuta asing Asia, pergerakan mata uang terpantau relatif stabil. Yen Jepang melemah 0,19 persen ke 156,16 per dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,16 persen ke 1,2651 per dolar AS, dolar Australia naik 0,61 persen ke 0,7101 per dolar AS, dan yuan China menguat 0,22 persen ke 6,8671 per dolar AS.
Rupiah turut menguat 0,17 persen ke level 16.800 per dolar AS. Ringgit Malaysia naik 0,15 persen ke 3,8882 per dolar AS, sementara baht Thailand menguat 0,07 persen ke 31,0580 per dolar AS.
Secara keseluruhan, perdagangan Asia ditutup dengan dominasi penguatan sektor teknologi dan semikonduktor. Sentimen pengembangan AI serta ekspektasi kebijakan moneter global yang lebih akomodatif pada paruh kedua tahun ini menjadi penopang utama pergerakan indeks kawasan.

