PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PEMA menjalin kerja sama strategis dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) untuk mengoptimalkan potensi gas bumi di Aceh. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kajian Bersama Pemanfaatan Pasokan Gas yang berlangsung di Muraya Hotel, Banda Aceh, Senin (19/1).
Kesepakatan tersebut diproyeksikan menjadi pijakan pengembangan industri hilir berbasis gas bumi di Aceh. Kajian bersama ini mencakup pemetaan kebutuhan infrastruktur serta identifikasi potensi industri yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
Direktur Pengembangan Bisnis PEMA, Naufal Natsir Mahmud, menyampaikan ruang lingkup kajian meliputi evaluasi potensi pasokan gas saat ini hingga proyeksi ke depan, termasuk pemanfaatan Blok Mubadala. Menurutnya, stabilitas suplai energi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pemulihan dan pergerakan ekonomi daerah.
“Dalam upaya untuk membangkitkan roda ekonomi Aceh, dibutuhkan energi yang stabil. PEMA menyadari pentingnya mitra strategis seperti PGN untuk bersama-sama membangun ekosistem gas bumi yang menyeluruh di Aceh,” ujar Naufal usai penandatanganan MoU.
Terkait investasi, PEMA menyatakan akan melakukan studi mendalam untuk menyusun tahapan pengembangan yang terukur, mulai dari rencana jangka pendek hingga jangka panjang. PEMA juga mendorong hilirisasi agar menghadirkan efek berganda, termasuk penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan. Naufal menambahkan, SDM lokal akan diberi ruang luas untuk terlibat dalam operasional bisnis ke depan.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, menilai Aceh sebagai titik penting untuk pemanfaatan sumber daya alam daerah dalam mendukung ketahanan energi nasional. Ia menyebut kerja sama ini menggabungkan pemahaman lokal PEMA dan mandat pembangunan daerah dengan kapabilitas PGN dalam pengelolaan gas bumi.
PGN, kata Mirza, akan berfokus pada optimalisasi infrastruktur yang menghubungkan sumber pasokan dengan titik permintaan, terutama untuk mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Lhokseumawe dan Aceh Besar.
“PGN melakukan pemetaan menyeluruh terhadap potensi pasokan gas, kebutuhan pengembangan infrastruktur, serta potensi demand yang akan dilayani, guna memastikan keterhubungan yang optimal antara sumber gas dan pusat demand di Aceh,” ujarnya.
Mirza menambahkan, kajian teknis akan menentukan skema distribusi gas, apakah melalui jaringan pipa atau melalui konversi wujud seperti Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG). Ia juga menekankan harapan agar realisasi dapat dipercepat sehingga aspek keekonomian terkonfirmasi dan pembangunan infrastruktur segera berjalan.
Sinergi PEMA dan PGN ini diharapkan meningkatkan daya saing kawasan industri di Aceh sekaligus menarik minat investor global. Di luar sektor gas, PEMA di bawah arahan Direktur Utama Mawardi Nur juga menyebut tengah mematangkan ekspansi bisnis pada komoditas lain, seperti kopi, nilam, serta pengolahan cangkang sawit dan kelapa untuk memperkuat portofolio bisnis perusahaan sejak 2025.

