BERITA TERKINI
Nanovest Klaim Trading Volume Naik 70% pada 2025, Dorong Literasi Keuangan dan Aset Web3

Nanovest Klaim Trading Volume Naik 70% pada 2025, Dorong Literasi Keuangan dan Aset Web3

Memasuki kuartal pertama 2026, dinamika geopolitik dan ekonomi global dinilai menambah tantangan bagi investor dalam menentukan arah kebijakan finansial. Di tengah ketidakpastian tersebut, kebutuhan akan strategi investasi jangka panjang dan pemahaman instrumen dinilai semakin penting untuk menghadapi volatilitas pasar sepanjang 2026.

Merespons kondisi itu, Nanovest menggelar sesi diskusi bertajuk “Golden Hours” di Kyro, Pacific Place. Acara yang berlangsung dalam suasana menjelang berbuka puasa tersebut mempertemukan pakar finansial, komunitas literasi, serta rekan media untuk membahas proyeksi ekonomi dan pendekatan investasi yang dinilai lebih tangguh.

Nanovest menyebut terjadi pergeseran perilaku investor di Indonesia. Sepanjang 2025, perusahaan ini mencatat pertumbuhan trading volume sebesar 70% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan total pengguna terverifikasi melampaui 1,1 juta orang.

Perusahaan mengaitkan peningkatan tersebut dengan adopsi teknologi, khususnya pengembangan ekosistem Web3 melalui produk seperti IDDB, Crypto Staking, dan Web3 Trading. Menurut Nanovest, capaian itu juga mencerminkan meningkatnya minat masyarakat pada aset digital yang lebih terdesentralisasi, meski tetap memerlukan panduan agar tidak terjebak spekulasi jangka pendek berisiko tinggi.

CMO Nanovest, Jovita Widjaja, menyampaikan bahwa 2026 disebut sebagai fase “kedewasaan” investor, terutama dari kalangan generasi muda. Ia menilai investor muda mulai memprioritaskan kesehatan portofolio dibanding mengejar keuntungan instan, sejalan dengan kebutuhan disiplin yang lebih tinggi di industri.

Dalam sesi Market Talks, para ahli menyoroti sektor teknologi global sebagai salah satu pendorong pertumbuhan, dengan contoh perusahaan seperti NVIDIA dan Microsoft yang diperkirakan tetap kuat seiring monetisasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Selain itu, sektor finansial Amerika Serikat seperti JPMorgan dan Visa disebut relatif stabil di tengah normalisasi ekonomi, yang dinilai membuka peluang diversifikasi bagi investor Indonesia ke pasar saham AS melalui akses platform digital.

Di sisi lain, aset safe haven seperti emas diproyeksikan tetap menarik dengan tren “higher for longer” sepanjang 2026. Proyeksi itu dikaitkan dengan kebijakan pelonggaran dari Federal Reserve serta inisiatif global yang disebut “Project Vault”, yang dinilai memperkuat posisi emas dalam menjaga daya beli.

Strategi yang dinilai relevan bagi investor milenial dan Gen Z adalah mengombinasikan aset pertumbuhan—seperti saham teknologi dan kripto—dengan aset defensif seperti emas dan saham berfundamental kuat. Investment Expert Jason Nathanael menekankan bahwa keunggulan investor muda terletak pada faktor waktu; dengan strategi seimbang sejak dini, mereka dinilai dapat menangkap peluang ekonomi baru tanpa mengabaikan perlindungan aset.

Optimisme pasar turut dikaitkan dengan harapan meningkatnya aliran dana dari institusi besar seperti dana pensiun, asuransi, dan BPJS ke bursa domestik. Tjoe Ay dari Jarvis Asset Management menyatakan bahwa jika arus dana institusi menguat, saham-saham berfundamental kokoh berpotensi memperoleh momentum likuiditas yang signifikan.

Melalui “Golden Hours”, Nanovest menyatakan ingin memposisikan diri tidak hanya sebagai penyedia aplikasi transaksi, tetapi juga mitra edukasi yang inklusif. Dengan memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai waktu refleksi finansial, perusahaan menyampaikan komitmen untuk memperkuat literasi keuangan dan membantu masyarakat membangun keputusan finansial yang lebih sadar dan berkelanjutan di tengah perkembangan teknologi digital.