BERITA TERKINI
Literasi Keuangan Dinilai Perlu Dibangun Sejak Mahasiswa, ShopeePay dan SeaBank Tutup Program SPARK 2025

Literasi Keuangan Dinilai Perlu Dibangun Sejak Mahasiswa, ShopeePay dan SeaBank Tutup Program SPARK 2025

Kesadaran akan pentingnya literasi keuangan dinilai perlu dibangun sejak masa mahasiswa untuk membentuk kebiasaan finansial yang sehat sepanjang hidup. Sejalan dengan hal itu, ShopeePay dan SeaBank menutup rangkaian SPARK Student Ambassador Program melalui acara SPARK Class of 2025: Awarding Night.

Program tersebut disebut bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman literasi keuangan yang lebih aplikatif, sekaligus mengenalkan dinamika industri fintech yang kian teregulasi dan berbasis kepercayaan. Dalam acara penutupan, apresiasi diberikan kepada 36 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.

Selama lima bulan, peserta mengikuti sesi pembelajaran terstruktur, inisiatif berbasis kampus, serta kegiatan pengembangan diri. Rangkaian kegiatan itu diarahkan untuk membangun kebiasaan finansial yang bertanggung jawab, sekaligus memperkuat kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.

Direktur Utama ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari (Lala), mengatakan program ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman literasi keuangan di kalangan mahasiswa agar dapat mengenal, menggunakan, dan memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Wakil Direktur Utama SeaBank Indonesia Junedy Liu menekankan pentingnya literasi keuangan sejak bangku kuliah. Menurut dia, pemahaman dasar pengelolaan keuangan dan penggunaan layanan keuangan digital secara sadar diharapkan dapat membentuk pengguna yang lebih bijak, hati-hati, dan bertanggung jawab.

Selain aspek teknis, program SPARK juga menyoroti penguatan soft skills, seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah. Keterampilan ini dinilai penting bagi generasi muda yang akan memasuki industri keuangan digital yang dinamis dan berada dalam pengawasan regulator.

Di sisi lain, isu literasi keuangan juga mengemuka dalam tantangan industri pinjaman daring (pindar). Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyebut gerakan gagal bayar atau galbay masih menjadi salah satu persoalan yang membayangi industri tersebut.

Direktur Eksekutif AFPI, Yasmine Meylia Sembiring, mengatakan masih banyak orang yang belum bisa mengelola pinjamannya dengan bijak. Ia menjelaskan, galbay merupakan gerakan sekelompok orang yang dengan sengaja tidak menyelesaikan kewajiban atau utangnya ke pindar, dan hal itu disebut masih menjadi tantangan serius.

AFPI juga menyampaikan edukasi kepada pengguna agar tidak mengikuti gerakan tersebut. Yasmine menambahkan, dengan masuknya SLIK, catatan atau “rapor” keuangan pengguna akan terlihat, sehingga jika tidak dimanfaatkan dengan baik dapat berbalik merugikan.

Dalam kesempatan terpisah, AFPI mencatat kanal pengaduan resminya menerima sekitar 200 laporan setiap hari. Menurut Yasmine, sekitar 80% laporan tersebut merupakan keluhan terkait pinjaman online ilegal yang tidak berkaitan dengan asosiasi, sementara 20% sisanya merupakan keluhan nasabah terkait pindar.

Untuk aduan yang berkaitan dengan pindar, keluhan terbanyak disebut terkait penagihan. Namun, Yasmine menilai hal itu juga dapat berkaitan dengan perilaku peminjam yang belum mengukur risiko, misalnya meminjam lebih dari kemampuan sehingga mengalami kesulitan membayar.