BERITA TERKINI
Libur Tahun Baru China 2026 Dorong Penyesuaian Pengapalan Global, Indonesia Waspadai Pasokan Bahan Baku

Libur Tahun Baru China 2026 Dorong Penyesuaian Pengapalan Global, Indonesia Waspadai Pasokan Bahan Baku

Perayaan Chinese New Year 2026 yang jatuh pada 17 Februari kembali menjadi periode krusial bagi rantai pasok global, seiring penghentian sementara aktivitas manufaktur di China yang rutin memicu penyesuaian produksi, pelayaran, dan arus impor lintas negara.

Sejumlah indikator menunjukkan penyesuaian tahun ini terjadi lebih awal dari kalender libur resmi. Aktivitas pengapalan trans-Pasifik dilaporkan meningkat sejak Desember 2025, mencerminkan respons importir global untuk mengantisipasi potensi kekosongan pasokan akibat penutupan pabrik dan perpindahan tenaga kerja di pusat-pusat manufaktur China.

Berdasarkan laporan Metro Global News edisi 21 Januari 2026, volume pengiriman dari Asia ke Amerika Serikat meningkat tiga hingga empat minggu lebih awal dibanding pola historis. Kenaikan ini terjadi meski Chinese New Year tahun ini berlangsung lebih lambat dari tahun sebelumnya, yang dinilai menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap risiko disrupsi produksi.

Di Pantai Barat Amerika Serikat, volume mingguan pengapalan sempat masuk kategori “operasional solid” dan mencatat kenaikan bulanan pertama dalam enam bulan terakhir. Namun National Retail Federation menilai lonjakan tersebut bersifat sementara dan lebih menggambarkan penyesuaian jadwal menjelang libur, bukan restocking yang didorong permintaan baru.

Secara struktural, Tahun Baru China kerap menciptakan jeda dalam rantai pasok global. Pabrik-pabrik biasanya menghentikan produksi sekitar dua minggu, dan dalam praktiknya dapat berlangsung lebih awal karena arus mudik tenaga kerja. Pemulihan pasca-libur juga tidak terjadi serempak, sehingga menambah friksi dalam kesinambungan pasokan internasional.

Importir umumnya merespons dengan memajukan jadwal pengiriman dan mengonsentrasikan volume kargo sebelum periode libur. Pola ini memunculkan puncak throughput jangka pendek pada awal Januari, kemudian diikuti fase penurunan musiman, sebelum kembali pulih pada pertengahan Februari saat muatan yang dikapalkan sebelum penutupan pabrik mulai tiba di pelabuhan tujuan.

Dari sisi pelayaran, perusahaan kapal menerapkan penarikan kapasitas secara selektif. Pada rentang minggu keempat hingga kedelapan, tercatat 68 blank sailing dari sekitar 698 jadwal keberangkatan Asia, atau hampir 10% kapasitas yang ditarik dari pasar. Sekitar 47% pembatalan terkonsentrasi pada rute trans-Pasifik eastbound.

Kondisi tersebut berdampak pada tarif. Tarif spot Asia–Pantai Barat Amerika Serikat dilaporkan melonjak lebih dari 40% dalam empat minggu terakhir, sementara tarif menuju Pantai Timur naik sekitar sepertiga. Meski begitu, pasar disebut menunjukkan resistensi terhadap general rate increase (GRI), sehingga penguatan harga dinilai lebih mencerminkan manajemen kapasitas ketimbang tekanan permintaan yang riil.

Bagi Indonesia, dampak Chinese New Year tidak hanya terkait keterlambatan impor barang jadi. Risiko strategis juga berada pada pasokan bahan baku dan barang antara dari China yang menopang sektor industri domestik. Saat pabrik-pabrik di China menghentikan produksi, ritme rantai pasok nasional berpotensi ikut terganggu.

Importir Indonesia cenderung memajukan pengiriman menjelang libur. Namun langkah ini berhadapan dengan pasar pelayaran yang mengetat akibat penarikan kapasitas global, sehingga ruang kapal menyempit dan tarif regional terdorong naik.

Kerentanan tersebut tercermin pada neraca perdagangan bilateral. Data Kementerian Perdagangan mencatat, sepanjang 2025 Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar US$17,74 miliar, melebar dari US$11,12 miliar pada tahun sebelumnya. Nilai impor dari China mencapai US$78,04 miliar, sementara ekspor tercatat US$60,30 miliar.

Struktur perdagangan ini menempatkan Indonesia pada posisi rentan terhadap gangguan produksi dan logistik di China. Dampaknya tidak hanya berupa keterlambatan pasokan, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlanjutan produksi industri dalam negeri, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku dan komponen impor.

Dengan proyeksi pertumbuhan perdagangan global 2026 yang berada pada kisaran satu digit rendah, pola musiman diperkirakan kembali dominan. Namun bagi negara dengan ketergantungan tinggi pada satu pusat produksi global, jeda produksi tahunan seperti Chinese New Year dapat menjadi ujian berulang bagi ketahanan rantai pasok nasional dan stabilitas industri dalam jangka menengah.