BERITA TERKINI
IHSG Sempat Tembus 9.000 Awal 2026, Optimisme Pembalikan Arah Ekonomi Menguat

IHSG Sempat Tembus 9.000 Awal 2026, Optimisme Pembalikan Arah Ekonomi Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan setelah sempat menembus level psikologis 9.000 pada awal 2026. Pergerakan ini memperkuat optimisme pelaku pasar bahwa ekonomi Indonesia memasuki fase pembalikan arah dan berada di jalur pertumbuhan yang dinilai lebih solid sepanjang tahun.

Penguatan IHSG dipandang sebagai cerminan membaiknya sentimen investor terhadap kondisi makroekonomi nasional. Dalam beberapa hari perdagangan terakhir, indeks bergerak stabil di level tinggi, yang mengindikasikan pulihnya kepercayaan pasar dari investor domestik maupun asing.

Momentum tersebut dinilai sejalan dengan perbaikan sejumlah indikator fundamental. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam tren meningkat. Memasuki kuartal ketiga, pertumbuhan diperkirakan kembali menguat, dan pada kuartal keempat diproyeksikan berada di kisaran 5,4 persen, dengan catatan tidak terjadi perubahan signifikan pada kondisi global.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi disebut masih terjaga. Tingkat inflasi nasional tercatat di kisaran 2,92 persen, masih berada dalam target pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Kondisi ini dinilai memberi ruang bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.

Inflasi yang terkendali juga dipandang sebagai sinyal bahwa daya beli masyarakat relatif stabil. Di tengah ketidakpastian global, situasi ini turut memperkuat keyakinan investor bahwa risiko ekonomi yang memanas berlebihan masih dapat dikelola.

Di sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan kinerja positif. Hingga November, surplus perdagangan mencapai sekitar 38,5 miliar dolar AS atau tumbuh lebih dari 31 persen secara tahunan. Capaian ini mencerminkan ketahanan sektor eksternal meski tekanan ekonomi global masih berlangsung, sekaligus menjadi bantalan bagi perekonomian domestik.

Indikator lain yang turut menjadi perhatian adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur. Pada Desember, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 51,2 persen, tetap di atas ambang 50 yang menandakan fase ekspansi. Meski sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya, perlambatan ini disebut wajar karena faktor libur akhir tahun yang biasanya menekan aktivitas produksi.

Dari pasar obligasi, tren penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turut dinilai memperkuat sentimen. Yield SBN tercatat turun hingga sekitar 6 persen, lebih rendah lebih dari 100 basis poin dibandingkan akhir 2024. Penurunan ini dianggap mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap pengelolaan fiskal dan stabilitas ekonomi, sekaligus berdampak pada biaya penerbitan utang pemerintah yang menjadi lebih murah dibandingkan tahun sebelumnya.

Kinerja IHSG sepanjang 2025 juga dilaporkan mencatat kenaikan signifikan. Indeks ditutup di kisaran 8.600-an pada akhir tahun lalu, naik lebih dari 22 persen secara tahunan. Memasuki 2026, tren penguatan tersebut dinilai masih berpeluang berlanjut, seiring investor mulai melihat hasil dari berbagai kebijakan dan program pembangunan.

Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi yang membaik, inflasi terkendali, surplus perdagangan yang kuat, serta stabilitas pasar keuangan, Indonesia dinilai memiliki modal untuk menjaga tren positif sepanjang 2026.