SURAKARTA — Di tengah maraknya tawaran investasi ilegal yang kian meluas di Indonesia, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan edukasi literasi investasi aman berbasis syariah kepada diaspora Indonesia yang tinggal di Jepang. Kegiatan edukasi ini digelar di Masjid Indonesia Tokyo.
Edukasi tersebut menghadirkan Rochman Hadi Mustofa, M.Pd., dosen Pendidikan Akuntansi UMS. Ia menekankan pentingnya penguatan literasi finansial, terutama karena penawaran investasi ilegal kini banyak menyasar masyarakat melalui kanal digital, termasuk warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.
Rochman mengingatkan bahwa diaspora Indonesia tetap berpotensi menjadi sasaran berbagai tawaran investasi ilegal berbasis digital. Menurutnya, penawaran dengan janji keuntungan tinggi kerap muncul di platform digital dan dapat menargetkan pekerja migran maupun anggota komunitas Indonesia di luar negeri yang memiliki jaringan sosial luas.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan persoalan investasi ilegal berdampak signifikan. Sejak 2017 hingga 2023, kerugian masyarakat akibat investasi bodong di Indonesia dilaporkan mencapai sekitar Rp139,67 triliun. Selain itu, hingga Agustus 2025, OJK melalui Satgas Waspada Investasi telah memblokir lebih dari 9.081 entitas pinjaman online dan investasi ilegal yang beroperasi tanpa izin.
“Kami melihat kebutuhan mendesak untuk memberikan literasi investasi syariah sebagai bagian dari strategi perlindungan finansial. Literasi ini tidak hanya membahas mekanisme investasi, tetapi juga prinsip-prinsip kejelasan, keadilan, dan keberlanjutan yang dipegang oleh investasi berbasis syariah,” ujar Rochman, Sabtu (21/2).
Melalui pembekalan tersebut, peserta diharapkan lebih waspada terhadap tawaran investasi yang terlihat menggiurkan namun berisiko tinggi. Salah satu peserta, Muhammad Wahyudi Prasetyo, mengatakan materi yang diberikan memberinya perspektif baru dalam mengelola aset secara aman, terutama karena diaspora kerap menghadapi keterbatasan akses pada informasi investasi yang valid dan terpercaya.
“Pengetahuan tentang investasi syariah membuat saya lebih tenang dalam merencanakan keuangan. Di tengah kondisi ekonomi dunia yang tak menentu, kami perlu memahami mana peluang yang aman dan mana yang berisiko,” kata Wahyudi.
Apresiasi juga disampaikan Mochammad Zamzam. Ia berharap kolaborasi antara akademisi dan komunitas diaspora dapat terus berlanjut karena dinilai bermanfaat tidak hanya dalam jangka pendek, tetapi juga membangun kesadaran finansial yang relevan dari waktu ke waktu.
Dalam catatan yang disampaikan, tawaran investasi ilegal kerap menyamar melalui berbagai modus, mulai dari skema cepat kaya hingga penawaran online yang tampak profesional namun tidak memiliki izin resmi. Hingga pertengahan 2025, puluhan ribu laporan penipuan dan entitas ilegal disebut telah diproses melalui sistem pelaporan seperti Indonesia Anti-Scam Center yang dibentuk untuk memperkuat perlindungan konsumen dari aktivitas ilegal.
Program edukasi yang digelar pada Minggu (1/2) itu sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam menjembatani kesenjangan informasi yang dihadapi masyarakat Indonesia di luar negeri.

