BERITA TERKINI
Kolom Ekonomi: Pernyataan Menkeu soal Rupiah dan Perdebatan Tanggung Jawab Fiskal-Moneter

Kolom Ekonomi: Pernyataan Menkeu soal Rupiah dan Perdebatan Tanggung Jawab Fiskal-Moneter

Sebuah kolom ekonomi menyoroti pernyataan Menteri Keuangan yang menyebut ia dapat membuat rupiah menguat “semalam” atau dalam “satu dua hari”, namun menegaskan dirinya bukan bank sentral. Pernyataan itu disampaikan saat rupiah disebut sedang bergerak menuju kisaran Rp17.000 per dolar AS.

Penulis kolom menilai pernyataan tersebut bukan bentuk penenangan, melainkan cenderung melempar tanggung jawab. Menurutnya, jika pemerintah mengaku memahami penyebab pelemahan rupiah sekaligus cara membalikkan arah dalam waktu 48 jam, tetapi tetap menyebut pergerakan itu sekadar “spekulasi”, maka muncul dua kemungkinan: persoalan berada di sisi fiskal atau ada hal yang diabaikan.

Dalam kolom itu, penulis juga mengkritik gagasan agar publik “bertanya kepada bank sentral”. Ia menilai, narasi semacam itu dapat dibaca pasar sebagai sinyal bahwa kebijakan fiskal mundur selangkah, sementara kebijakan moneter yang harus menanggung akibatnya.

Penulis menyinggung bahwa rekor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak otomatis membuat rupiah menguat. Ia menyebut investor asing dapat melakukan lindung nilai, misalnya membeli saham Indonesia sambil menjual rupiah, dan praktik tersebut dianggap lazim.

Kolom tersebut juga menilai klaim bahwa rupiah “undervalued” serta pengulangan narasi “fundamental kuat” tidak menjawab akar persoalan. Menurut penulis, pasar bergerak karena arus dana, defisit, kebutuhan pembiayaan, dan kepercayaan. Ketika kebutuhan pembiayaan melampaui kepercayaan, nilai tukar dinilai akan bereaksi lebih dulu.

Rupiah disebut sempat menguat menjelang akhir pekan. Namun penulis menyatakan penguatan itu bukan karena terobosan kebijakan di dalam negeri, melainkan dipengaruhi membaiknya sentimen di Asia dan melemahnya dolar AS. Dalam pandangannya, ketika tekanan eksternal mereda, mata uang dapat “bernapas”, tetapi hal itu bukan bukti kekuatan, melainkan kelegaan sementara.

Penulis kemudian menguraikan bahwa nilai tukar memang dapat “didorong naik” dalam waktu singkat, tetapi caranya memiliki konsekuensi. Opsi pertama yang disebut adalah “terapi kejut fiskal”, yakni pemangkasan belanja besar-besaran dengan konsekuensi terhadap pertumbuhan. Opsi kedua adalah “teater keuangan”, seperti mengerahkan cadangan devisa, menerbitkan utang valas, dan membeli waktu yang pada akhirnya harus dibayar.

Menurut kolom tersebut, makna “semalam” adalah memindahkan biaya ke masa depan. Penulis menilai, dalam situasi ketika pemerintah membelanjakan lebih dulu dan menjelaskan belakangan, bank sentral berpotensi menjadi katup pelepas tekanan, sementara nilai tukar menjadi indikator yang paling cepat menunjukkan retak kepercayaan.

Kolom itu juga menyoroti sikap bank sentral yang disebut tidak meluruskan narasi, tidak memperjelas mandat, dan tidak mendorong balik di ruang publik. Keheningan tersebut dinilai penulis bukan sebagai disiplin, melainkan penerimaan.

Di bagian akhir, penulis menggunakan analogi sederhana: ketika uang terbatas, seseorang sebaiknya tidak memesan semua lauk sambil berjanji akan membayar nanti. Ia menutup dengan kesimpulan bahwa “semalam” bukan strategi, melainkan meminjam kepercayaan hari esok untuk bertahan dari tekanan hari ini.