BERITA TERKINI
Bank-bank Mulai Perluas Kredit Online, Tekfin Hadapi Persaingan Ketat

Bank-bank Mulai Perluas Kredit Online, Tekfin Hadapi Persaingan Ketat

Industri perbankan di Indonesia semakin giat mengembangkan layanan kredit secara digital untuk mempermudah nasabah dalam mengajukan pinjaman. Langkah ini sekaligus menjadi tantangan bagi perusahaan teknologi finansial (tekfin) yang selama ini mendominasi layanan pinjaman online.

Salah satu pelopor layanan kredit digital di perbankan adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) melalui produk BNI Digital Loan. Awalnya, layanan ini fokus pada pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR), namun kini sudah diperluas untuk pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Tanpa Agunan (KTA), kartu kredit, dan kredit wiraswasta.

Kepala Divisi Usaha Kecil BNI, Bambang Setyamojo, menyampaikan bahwa BNI menerima lebih dari 1.000 aplikasi pengajuan kredit setiap bulan. Mayoritas pengajuan berasal dari sektor usaha kecil dan menengah (UKM), yang mengalami pertumbuhan debitur hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2017. Kemudahan akses melalui aplikasi e-form berbasis website menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan tersebut.

Bambang menambahkan bahwa bunga kredit yang ditawarkan BNI untuk UMKM saat ini masih di level satu digit, yakni 9,95%, sedangkan untuk kredit komersial mencapai 13,5%. Tingkat suku bunga ini lebih kompetitif dibandingkan dengan bunga pinjaman yang biasanya diberikan oleh perusahaan tekfin.

BNI juga terus mengembangkan proses digitalisasi kredit secara menyeluruh, mulai dari pencarian nasabah, pencairan dana, hingga monitoring. Penggunaan big data analytics dan kerja sama dengan agen Laku Pandai (Agen46) serta mitra korporasi menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan efisiensi dan jangkauan layanan, terutama bagi nasabah yang berada jauh dari kantor cabang.

Meskipun demikian, terdapat kendala dalam model bisnis ini, terutama terkait kelengkapan data calon debitur dan persyaratan yang lebih ketat dibandingkan tekfin. Akibatnya, hanya sekitar 10-15% dari total aplikasi yang diajukan setiap bulan dapat disetujui. BNI pun berupaya mengoptimalkan proses analisis data agar tingkat persetujuan dapat meningkat di masa depan.

Selain BNI, PT Bank Sahabat Sampoerna (BSS) juga mulai menawarkan pinjaman digital melalui website PDaja.com. Produk ini menyediakan plafon pinjaman antara Rp 50 juta hingga Rp 500 miliar dengan tenor 12 bulan, serta bunga bersaing di kisaran 15%-18% per tahun, tergantung plafon dan agunan. Bank Sampoerna optimistis produk ini dapat berkontribusi besar, dengan target 75% penyaluran kredit melalui aplikasi dalam satu tahun ke depan.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) melalui aplikasi Jenius juga meluncurkan fitur pinjaman digital bernama Flexi Cash. Fitur ini memberikan dana siaga yang dapat digunakan nasabah aktif Jenius sesuai kebutuhan dengan plafon rata-rata Rp 7-8 juta dan bunga rendah antara 1,75%-2,25%. Nasabah memiliki fleksibilitas memilih jumlah dana yang akan dicairkan dari plafon yang tersedia, dengan bunga hanya dikenakan pada jumlah yang dipakai.

Persaingan Digital Kredit yang Semakin Ketat

Dengan semakin banyaknya bank yang masuk ke layanan kredit digital, persaingan di sektor ini diperkirakan makin sengit. Model bisnis yang menggabungkan kemudahan akses, bunga kompetitif, dan proses digital menyeluruh memberikan daya tarik tersendiri bagi nasabah, terutama pelaku UMKM.

Di sisi lain, perusahaan tekfin yang selama ini mengandalkan kemudahan dan kecepatan pengajuan pinjaman online harus bersiap menghadapi persaingan dari perbankan yang menawarkan keamanan dan suku bunga lebih menarik. Hal ini menandai perubahan lanskap pembiayaan digital di Indonesia yang semakin kompleks dan dinamis.