BERITA TERKINI
World Gold Council: Harga Emas Turun pada Maret, Indikasi Stabilisasi Mulai Muncul

World Gold Council: Harga Emas Turun pada Maret, Indikasi Stabilisasi Mulai Muncul

Harga emas tercatat turun 12% pada Maret ke level USD4.608 per troy ons, menjadikannya bulan terlemah sejak Juni 2013. Meski melemah terhadap seluruh mata uang utama, World Gold Council mencatat emas masih membukukan kenaikan secara tahunan.

Analis Kuantitatif Senior World Gold Council, Johan Palmberg, menjelaskan bahwa model atribusi bulanan GRAM menangkap sentimen pasar meski tidak sepenuhnya mencerminkan besaran penurunan. Ia menyebut pelemahan terutama dipicu faktor momentum, termasuk arus keluar ETF emas global, pelepasan posisi beli bersih (long unwind) di COMEX, serta pembalikan tren harga.

“Kontribusi yang lebih terbatas berasal dari penguatan dolar AS dan imbal hasil (yield). Bagian prospektif dalam laporan ini akan membahas lebih lanjut rincian pergerakan sepanjang Maret,” kata Palmberg dalam keterangannya, dikutip Minggu, 12 April 2026.

Sepanjang Maret, ETF emas global mencatat arus keluar sebesar USD12 miliar atau setara 84 ton. Kontribusi terbesar berasal dari Amerika Utara sebesar USD14 miliar (minus 87 ton) dan Eropa sebesar USD0,1 miliar (minus 7 ton). Sementara itu, Asia menjadi kontributor positif dengan arus masuk USD1,9 miliar atau 10 ton.

Menurut Palmberg, kondisi tersebut mencerminkan kuatnya aksi beli saat harga turun (dip-buying) di Asia, yang menghasilkan arus dana lebih besar meski tonasenya lebih kecil.

Dari sisi pasar berjangka, posisi beli bersih investor (managed money) di COMEX turun USD2 miliar atau 19 ton pada Maret. Namun, laporan menilai pasar masih menunjukkan bias beli (long bias) yang kuat.

Memasuki periode berikutnya, World Gold Council menyebut sejumlah indikasi awal stabilisasi pasar mulai terlihat. Dolar AS dinilai kesulitan mempertahankan penguatannya dan gagal menembus level tertinggi terbaru secara signifikan, sehingga mengurangi salah satu sumber tekanan jangka pendek.

Selain itu, arus masuk ETF emas pada awal April terpantau positif di berbagai kawasan. Di pasar opsi, permintaan lindung nilai (hedging) jangka pendek disebut tinggi, tetapi terdapat bias yang lebih konstruktif pada tenor yang lebih panjang. Kondisi ini mengindikasikan investor masih memandang emas secara positif dalam jangka menengah.

Laporan juga menilai pengetatan kebijakan di AS kemungkinan lebih bersifat retoris. Dorongan inflasi (CPI) dari sisi energi berpotensi menekan permintaan dan membatasi dampaknya terhadap inflasi inti, sehingga memperkuat peluang pergeseran kebijakan moneter ke arah yang lebih longgar (dovish).

Di sisi permintaan, World Gold Council menyebut mulai muncul minat dari segmen manajemen kekayaan (wealth management), sektor ritel, serta permintaan fisik seiring harga mulai stabil di atas level teknikal utama.

Meski demikian, risiko masih membayangi. World Gold Council menilai jika konflik membuat harga minyak bertahan jauh di atas USD100 per barel dalam waktu lama, situasinya dapat menjadi tantangan tersendiri, mengingat respons yang relatif tenang sebelumnya ditopang bantalan kebijakan yang kini dinilai tidak lagi tersedia.

“Dengan demikian, meskipun faktor fundamental tetap mendukung, pergerakan harga dalam jangka pendek kemungkinan masih akan sangat sensitif terhadap kebutuhan likuiditas yang dipicu oleh konflik, bukan semata-mata oleh sinyal makroekonomi,” kata Palmberg.