BERITA TERKINI
World Bank Peringatkan Risiko Capital Outflow di Asia Timur-Pasifik, Indonesia Diminta Perdalam Pasar Modal

World Bank Peringatkan Risiko Capital Outflow di Asia Timur-Pasifik, Indonesia Diminta Perdalam Pasar Modal

Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia (World Bank), Aditya Mattoo, menyoroti potensi keluarnya modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut dia, kondisi ini menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi ketika investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Mattoo menjelaskan bahwa dinamika pasar keuangan global saat ini berubah cepat. Dalam situasi penuh ketidakpastian, arus modal dinilai mudah bergeser ke negara atau instrumen yang dipandang lebih stabil, sehingga menambah tekanan bagi negara berkembang yang struktur pasar keuangannya lebih rentan.

Ia juga menyebut arus keluar modal sudah terlihat di sejumlah negara Asia Timur dan Pasifik, termasuk Indonesia, dengan dampak yang dapat terasa pada pasar saham dan obligasi. Tekanan tersebut, kata Mattoo, turut diperparah oleh meningkatnya inflasi di beberapa negara.

Selain arus modal, pelemahan nilai tukar menjadi indikator lain meningkatnya risiko. Mattoo mencontohkan baht Thailand yang telah terdepresiasi sekitar 5 persen, yang mencerminkan tekanan serupa dan berpotensi terjadi di negara lain di kawasan.

Untuk Indonesia, Mattoo menilai tantangan struktural masih ada, terutama terkait kedalaman pasar keuangan. Pasar modal yang relatif dangkal dinilai membuat gejolak eksternal lebih mudah berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi domestik. Ia menekankan masih ada peluang untuk memperdalam pasar modal, yang pada akhirnya dapat memperkuat ketangguhan ekonomi.

Mattoo menambahkan, situasi saat ini berpotensi mengarah pada kondisi krisis, meski masih dalam kategori yang dapat dikendalikan. Salah satu indikator yang ia soroti adalah meningkatnya spread obligasi di negara seperti Indonesia dan Filipina, yang disebut sudah naik sekitar 30 basis poin. Kenaikan ini mencerminkan persepsi risiko investor yang meningkat terhadap instrumen utang di negara berkembang, yang dapat berujung pada biaya pendanaan yang lebih mahal bila tren berlanjut.

Meski demikian, Mattoo melihat peluang perbaikan apabila ketegangan geopolitik mereda. Ia menyatakan, jika konflik di Timur Tengah dapat diselesaikan, tren tekanan di pasar keuangan berpotensi membaik dan arus modal dapat kembali lebih stabil.