BERITA TERKINI
Volatilitas Global dan Isu Konsentrasi Kepemilikan Bayangi IHSG, Berisiko Uji Level 7.000

Volatilitas Global dan Isu Konsentrasi Kepemilikan Bayangi IHSG, Berisiko Uji Level 7.000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam volatilitas tinggi pada awal pekan ini, seiring sentimen global yang masih rapuh dan meningkatnya perhatian pasar terhadap isu konsentrasi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Riset harian Kiwoom Sekuritas menilai tekanan dapat membawa IHSG menguji kembali area psikologis 7.000 hingga 6.920, dengan risiko pelemahan lebih dalam apabila level tersebut ditembus.

Dari global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi menjelang libur Jumat Agung. Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), Dow Jones turun 0,13% ke 46.505, S&P 500 naik 0,11% ke 6.583, dan Nasdaq menguat 0,18% ke 21.879. Indeks volatilitas (VIX) tercatat turun ke 23,87.

Secara mingguan, ketiga indeks utama Wall Street mencatat pemulihan, mengakhiri tren penurunan selama 5–6 pekan. S&P 500 naik 3,36%, Nasdaq naik 4,44%, dan Dow naik 2,96%. Namun, pergerakan pasar dinilai tetap defensif. Sektor real estat naik 1,5% dan utilitas naik 0,6%, sementara sektor barang konsumsi non-esensial turun 1,5% dengan tekanan antara lain dari Tesla yang turun 5,4% setelah realisasi pengiriman 358.023 unit, di bawah konsensus 372.160.

Kiwoom Sekuritas juga menyoroti arus dana institusional yang agresif. Dana lindung nilai disebut melakukan penjualan bersih tercepat dalam 13 tahun, sejalan dengan penurunan bulanan MSCI ACWI sebesar 7,4% dan S&P 500 sebesar 5,1%. Di saat yang sama, aktivitas short selling melalui ETF di AS meningkat 17%. Rotasi ke sektor barang konsumsi pokok terjadi dengan laju tercepat sejak Juli 2025, sementara pembelian di sektor teknologi dinilai banyak terkait penutupan posisi short selling.

Dari sisi risiko, perhatian pasar turut tertuju pada kredit swasta setelah Blue Owl membatasi penarikan dana. Di tengah pasar yang bergejolak, beberapa berita korporasi menjadi sorotan, termasuk kenaikan saham Globalstar 13,4% terkait potensi akuisisi oleh Amazon, serta pembahasan mengenai IPO SpaceX yang ditargetkan pada valuasi USD 1,75 triliun.

Sentimen global juga dipengaruhi ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz, jalur yang disebut menjadi lintasan sekitar 20% minyak global. Pasar bergerak mengikuti ekspektasi terkait pembukaan atau penutupan jalur tersebut. Dalam pembaruan situasi, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada gencatan senjata dalam waktu dekat dan menyatakan kesiapan untuk eskalasi militer, sementara Iran dan Oman memulai diskusi pengaturan lalu lintas. Bank Credit Analyst (BCA) menilai pasar menghadapi dua jalur: de-eskalasi sementara jika lalu lintas membaik, atau eskalasi lebih dalam jika serangan terhadap sektor energi berlanjut. Faktor politik AS juga dinilai berperan dalam arah kebijakan.

Perkembangan terbaru perang AS-Iran mencakup penetapan batas waktu Selasa pukul 20:00 ET bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, disertai ancaman serangan besar jika tidak dipenuhi. Operasi militer dilaporkan meningkat dengan 272 target diserang di 14 provinsi Iran, menewaskan 9 orang dan merusak fasilitas energi. Iran disebut memperluas target balasan hingga mencakup pusat energi Kuwait. Iran menolak ultimatum AS dan meminta kompensasi finansial untuk membuka Selat Hormuz, serta mengancam memperluas konflik ke Selat Bab el-Mandeb yang disebut mencakup 12% perdagangan global.

Di pasar pendapatan tetap, obligasi pemerintah AS menguat dengan imbal hasil turun 2 basis poin. Namun, kondisi keuangan keseluruhan dinilai mengencang setara kenaikan suku bunga sekitar 80 basis poin, dipengaruhi dolar yang kuat, harga minyak yang tinggi, dan premi risiko yang meningkat. Morgan Stanley masih memperkirakan The Fed memangkas suku bunga pada paruh kedua 2026 sebanyak dua kali 25 basis poin menuju kisaran 3,0%–3,25%, dengan asumsi inflasi inti tetap terkendali dan ekspektasi jangka panjang stabil. Data ketenagakerjaan menunjukkan Nonfarm Payroll bertambah 178.000 (di atas ekspektasi 65.000), tingkat pengangguran turun ke 4,3%, sementara pertumbuhan upah melambat menjadi 0,2% secara bulanan (3,5% tahunan). Dolar menguat secara luas, sementara rupee India menguat 2% dan disebut menjadi yang terbaik sejak 2013.

Di Eropa, penutupan bursa pekan lalu cenderung melemah dengan STOXX 600 turun 0,2%, DAX turun 0,8%, CAC turun 0,2%, sementara FTSE 100 naik 0,7%. Sejumlah pelaku industri mulai mengantisipasi dampak gangguan pasokan energi, antara lain Ryanair yang memperingatkan risiko gangguan pasokan bahan bakar jet mulai Juni dan Lufthansa yang melihat pengetatan pasokan di Asia. Shell dilaporkan mencari pasokan alternatif melalui proyek gas di Venezuela. Salah satu sinyal pemulihan terbatas datang dari kapal CMA CGM milik Prancis yang menjadi kapal Barat pertama melintasi Hormuz sejak perang. Namun, ketegangan AS-Prancis disebut meningkat terkait pendekatan pengamanan jalur energi.

Di Asia, pergerakan bursa beragam pada Kamis lalu. Nikkei naik 1,2% dan KOSPI naik 3%, sementara pasar China melemah dengan Shanghai turun 0,9% dan CSI300 turun 0,6% setelah PMI jasa turun ke 52,1 dari 56,7. Risiko politik juga disebut meningkat setelah penyelidikan terhadap pejabat tinggi, yang dinilai mengindikasikan konsolidasi kekuasaan lebih dalam dan potensi tekanan pada arus investasi asing langsung.

Dari komoditas, minyak menjadi pendorong utama pergerakan lintas aset. US WTI naik 11% ke USD 111 per barel dan Brent naik 7% ke USD 108 per barel, dengan lonjakan terbesar dalam lima tahun. Namun, kontrak Oktober di USD 82 mengindikasikan ekspektasi pasar bahwa gangguan bersifat sementara. Risiko energi meningkat setelah Iran disebut memperluas target ke infrastruktur energi darat, termasuk serangan drone terhadap Kuwait Petroleum Corp serta fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi. Sementara itu, emas turun lebih dari 2% dan perak turun 5,2%, tertekan oleh inflasi tinggi, kenaikan imbal hasil, dan penguatan dolar.

Untuk pekan ini, fokus utama pasar adalah inflasi dan musim laporan keuangan. Selain inflasi Jerman dan Tiongkok, perhatian pelaku pasar tertuju pada CPI AS yang diperkirakan naik 1,0% secara bulanan dengan inflasi inti 0,3% secara bulanan, di tengah harga bensin yang telah melampaui USD 4 per galon dan kenaikan minyak yang disebut mencapai 90% sejak awal tahun. Pasar juga menanti data PCE AS, risalah rapat FOMC, PDB AS kuartal IV dengan konsensus 0,7% secara kuartalan, PMI jasa dari sejumlah negara, serta dimulainya musim pendapatan, termasuk Delta Air Lines dan Constellation Brands. Konsensus pertumbuhan laba S&P 500 masih 14,4% secara tahunan, namun panduan terkait biaya dan permintaan energi dinilai akan menjadi perhatian utama.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI dan KSEI menyelesaikan empat agenda utama reformasi transparansi pasar modal untuk meningkatkan kredibilitas dan memenuhi standar global, termasuk yang terkait dengan MSCI. Kebijakan tersebut mencakup pembukaan data kepemilikan saham di atas 1%, implementasi Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi (HSC), klasifikasi investor menjadi 39 jenis, serta peningkatan minimum free float menjadi 15%. Perubahan Regulasi IDX I-A yang efektif 31 Maret 2026 juga memperkuat tata kelola dan likuiditas pasar melalui aturan free float baru dan kewajiban pelaporan lebih rinci, termasuk pemilik manfaat di atas 10%.

Selain itu, BPI Danantara melalui Danantara Asset Management menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) pada 1 April 2026 untuk mengakuisisi tiga manajer investasi milik bank BUMN—BRI MI, Mandiri Manajemen Investasi, dan BNI Asset Management—dengan nilai total Rp2,3 triliun. Laporan Bloomberg menyebutkan rencana penggabungan ketiga entitas menjadi satu perusahaan, meski hal tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Secara kinerja, IHSG melemah 0,99% selama sepekan ke level 7.026,78 setelah sempat pulih lebih dari 2%. Nilai transaksi harian turun 36,7% menjadi Rp14,76 triliun. Investor asing mencatat penjualan bersih Rp2,95 triliun di seluruh pasar, sehingga total net sell sepanjang tahun berjalan menjadi Rp33,8 triliun. Tekanan utama datang dari BREN yang turun 13,12%, serta BYAN dan BBRI, yang bersama-sama mengikis puluhan poin indeks. Delapan dari 11 sektor melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor transportasi (-3,57%), sementara sektor barang konsumsi siklikal naik 6,58%. IHSG tercatat sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di ASEAN bersama Malaysia yang turun 0,84%.

Untuk hari ini, BEI merilis daftar sembilan saham dengan status HSC di atas 95% per 31 Maret 2026, yakni LUCY (95,47%), AGII (97,75%), SOTS (98,35%), IFSH (99,77%), MGLV (95,94%), ROCK (99,85%), RLCO (95,35%), DSSA (95,76%), dan BREN (97,31%). BEI menegaskan status HSC tidak otomatis melanggar aturan free float, namun menjadi indikator penting terkait risiko likuiditas dan pergerakan harga. Emiten dalam daftar tersebut didorong meningkatkan porsi kepemilikan publik, dengan kemungkinan penilaian ulang dan pencabutan status jika distribusi saham membaik.

Kiwoom Sekuritas mengingatkan pasar perlu mencermati potensi reaksi MSCI setelah informasi tersebut, terutama terkait kemungkinan perubahan terhadap saham dalam indeks. Dengan kombinasi sentimen global yang masih dipengaruhi dinamika energi dan geopolitik serta isu domestik terkait konsentrasi kepemilikan, pelaku pasar diimbau bersiap menghadapi volatilitas tinggi. Riset tersebut menilai IHSG berisiko menguji ulang area 7.000–6.920, dan apabila tembus, pelemahan dapat berlanjut menuju 6.650.