BERITA TERKINI
Vo Tri Thanh: Stabilitas Makro dan Pertumbuhan Perlu Dikelola Seimbang di Tengah Tekanan Suku Bunga, Nilai Tukar, dan Energi

Vo Tri Thanh: Stabilitas Makro dan Pertumbuhan Perlu Dikelola Seimbang di Tengah Tekanan Suku Bunga, Nilai Tukar, dan Energi

Direktur Lembaga Penelitian Strategi Merek dan Persaingan (BCSI), Dr. Vo Tri Thanh, menilai kunci menjaga kinerja ekonomi makro di tengah berbagai “tantangan” terletak pada pengelolaan kebijakan yang fleksibel dan selaras, bersamaan dengan percepatan restrukturisasi pendorong pertumbuhan serta sumber daya ekonomi.

Dalam keterangannya kepada seorang reporter Surat Kabar Industri dan Perdagangan, Vo Tri Thanh mengatakan situasi makroekonomi pada kuartal pertama 2006 pada dasarnya stabil. Inflasi dinilai terkendali, pertumbuhan tetap terdorong, dan keseimbangan ekonomi utama terjaga. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama diperkirakan meningkat 7,83% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebanyak 23 dari 34 daerah mencatat pertumbuhan Produk Regional Bruto sebesar 8% atau lebih, dengan Ha Tinh, Ninh Binh, Hai Phong, dan Hung Yen mencapai 10% atau lebih.

Menurutnya, sejumlah daerah mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi karena memiliki basis produksi industri yang relatif kuat dan daya tarik yang efektif terhadap investasi domestik maupun asing. Daerah-daerah seperti itu, kata dia, menjadi “lokomotif” penting yang membantu menjaga momentum pertumbuhan secara keseluruhan.

Meski demikian, harapan terbesar tetap diarahkan pada dua pusat ekonomi utama, yakni Hanoi dan Ho Chi Minh City. Keduanya dinilai memiliki skala ekonomi besar dan dampak yang kuat, serta memperoleh mekanisme dan kebijakan khusus untuk memaksimalkan mobilisasi sumber daya pembangunan. Namun, ia mengingatkan bahwa mempertahankan pertumbuhan yang lebih tinggi dari rata-rata nasional—yang sudah tinggi—bukan pekerjaan mudah bagi kedua kota tersebut.

Vo Tri Thanh menambahkan, bila mekanisme khusus dapat dilembagakan dan dijalankan secara efektif, disertai pembentukan ruang pengembangan baru seperti zona perdagangan bebas atau pusat keuangan internasional di Da Nang dan Ho Chi Minh City, maka kota-kota terdepan diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan dan menyiapkan fondasi bagi fase pembangunan berikutnya.

Terkait tekanan nilai tukar dan suku bunga, ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah menjaga stabilitas makroekonomi sambil tetap mendorong pertumbuhan. Fokus stabilitas makro, menurutnya, adalah mengendalikan inflasi sesuai target Majelis Nasional. Namun, perekonomian juga dipengaruhi banyak faktor eksternal, seperti kebijakan negara-negara ekonomi besar maupun konflik geopolitik, yang dapat mendorong inflasi naik, terutama inflasi yang dipicu biaya produksi (cost-push).

Dalam kondisi inflasi tertekan, penurunan suku bunga untuk mendukung dunia usaha menjadi lebih sulit. Sebaliknya, kenaikan suku bunga yang terlalu tajam dapat langsung memengaruhi biaya modal, biaya produksi, dan kegiatan operasional bisnis. Karena itu, ia menekankan perlunya keseimbangan dalam pengelolaan variabel utama seperti suku bunga, nilai tukar, dan inflasi.

Ia menyebut dua kelompok solusi yang perlu diprioritaskan. Pertama, pengelolaan kebijakan moneter secara fleksibel dengan koordinasi proaktif antara nilai tukar dan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, sehingga kenaikan suku bunga dapat dibatasi pada tingkat yang wajar dan menghindari “guncangan” terhadap perekonomian.

Kedua, pemerintah perlu melanjutkan kebijakan kuat untuk mendukung dunia usaha. Selain langkah seperti restrukturisasi utang dan penangguhan utang, ia menilai koordinasi efektif dengan kebijakan fiskal—misalnya pengurangan pajak dan biaya—dibutuhkan untuk mengurangi tekanan biaya. Pada saat yang sama, paket kredit preferensial untuk sektor-sektor kunci perlu dipertahankan, diperluas, dan terutama dipercepat pelaksanaannya.

Contoh yang ia sebut mencakup program pengembangan perumahan sosial dan perumahan terjangkau, serta paket kredit bagi pertanian dan perikanan, yang dinilai berperan penting bagi pertumbuhan dan kesejahteraan.

Dari sisi sumber daya pembiayaan, Vo Tri Thanh menilai perekonomian Vietnam masih sangat bergantung pada kredit perbankan. Dalam jangka pendek, perbankan tetap menjadi sumber modal utama sehingga pelaku usaha, menurutnya, tetap harus bergantung pada saluran tersebut. Namun ketergantungan ini membawa risiko, terutama ketika suku bunga berfluktuasi.

Karena itu, ia mendorong pengembangan pasar modal secara lebih kuat dalam jangka menengah dan panjang untuk mendiversifikasi kanal pendanaan. Ia menekankan perlunya memperdalam pasar saham dan mendorong perusahaan menghimpun modal melalui penerbitan saham, obligasi, IPO, dan instrumen lainnya.

Selain pasar saham, ia juga menilai pengembangan dana investasi perlu didorong. Dana investasi bukan hanya menyediakan modal jangka menengah dan panjang, tetapi juga dapat meningkatkan kapasitas manajemen, membantu perusahaan memperluas skala, dan memperkuat daya saing.

Sementara bagi sistem perbankan, ia menegaskan peran “mediasi” tetap penting. Bank perlu menjaga stabilitas makro dan pengendalian inflasi, sambil menggunakan instrumen secara fleksibel untuk mendukung pertumbuhan dan meringankan kesulitan dunia usaha.

Mengenai minyak dan energi, Vo Tri Thanh menilai dampak konflik di Timur Tengah sangat besar dan beragam, sehingga pengendalian pasokan serta harga energi menjadi krusial. Ia mengatakan Vietnam merespons cukup cepat dan tegas melalui dua langkah: mendiversifikasi sumber pasokan untuk memastikan ketersediaan bahan bakar bagi konsumsi dan produksi, serta menggunakan instrumen fiskal untuk menstabilkan harga domestik, termasuk penyesuaian pajak dan biaya serta pemanfaatan Dana Stabilisasi Harga.

Menurutnya, langkah-langkah tersebut membantu menjaga harga bahan bakar domestik tetap terkendali pada tingkat yang dapat diterima meski tekanan global signifikan. Namun ia mengingatkan ruang kebijakan tidak tak terbatas, terutama karena Vietnam belum memiliki sistem cadangan energi strategis berskala besar.

Dalam perspektif jangka panjang, ia melihat situasi energi saat ini bukan hanya tantangan, melainkan juga peluang. Guncangan energi, katanya, dapat menjadi “katalis” untuk mempercepat restrukturisasi sektor energi Vietnam. Ia menilai orientasi utama sudah ada, seperti Rencana Pengembangan Tenaga Listrik VIII dan strategi keamanan energi, tetapi implementasinya perlu dipercepat dan dilakukan lebih tegas.

Ia menekankan pentingnya mengembangkan sumber energi yang beragam untuk memastikan pasokan stabil bagi perekonomian, sekaligus membangun sistem cadangan energi strategis guna meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal. Ia juga menyoroti bahwa transisi energi—terutama pengembangan energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi—membutuhkan investasi modal besar, sehingga perbaikan mekanisme dan kebijakan diperlukan untuk menarik lebih banyak investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.