BERITA TERKINI
UOB: Vietnam Berpeluang Naik Kelas di Rantai Nilai saat Perdagangan Global Berubah

UOB: Vietnam Berpeluang Naik Kelas di Rantai Nilai saat Perdagangan Global Berubah

Vietnam dinilai memiliki banyak peluang dari restrukturisasi perdagangan global, meski tetap menghadapi risiko terkait tarif dan tekanan biaya. Penilaian ini disampaikan Suan Teck Kin, Direktur Riset Pasar dan Ekonomi Global UOB Bank (Singapura), dalam tinjauannya mengenai perubahan arus perdagangan dunia serta faktor strategis yang dapat memperkuat posisi Vietnam dalam rantai nilai regional dan global.

Menurut Suan, kekuatan Vietnam di sektor elektronik dan semikonduktor menjadi fondasi penting untuk bergerak ke segmen bernilai lebih tinggi. Saat ini Vietnam berada di peringkat kedelapan dunia untuk ekspor produk terkait elektronik dan memiliki lebih dari 170 proyek semikonduktor yang didanai investasi asing. Sebagian besar proyek tersebut berfokus pada desain, pengemasan, dan pengujian chip.

Keunggulan ini, lanjutnya, membuka ruang bagi Vietnam untuk memperdalam keterlibatan pada segmen bernilai tambah tinggi, seperti pengemasan dan inspeksi canggih (OSAT), komponen elektronik presisi, material dan peralatan manufaktur, serta penerapan AI dan otomatisasi industri dalam manufaktur dan logistik.

Untuk proyeksi 2026, Suan menyebut UOB mempertahankan pandangan yang hati-hati namun positif terhadap Vietnam. Walau ada tanda perlambatan pertumbuhan PDB, aktivitas ekonomi masih ditopang sektor manufaktur, konstruksi, dan jasa, disertai pertumbuhan ekspor yang kuat serta daya tarik investasi asing. Faktor pendorongnya antara lain diversifikasi rantai pasok global yang berlanjut.

Namun, meningkatnya risiko inflasi akibat dampak limpahan harga energi membuat UOB merevisi turun perkiraan pertumbuhan Vietnam pada 2026. UOB juga memperkirakan Bank Negara Vietnam akan mempertahankan kebijakan moneter yang stabil sepanjang 2026.

Suan mengutip proyeksi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang memperkirakan pertumbuhan perdagangan global sekitar 1,9%—setara rata-rata jangka panjang, tetapi lebih rendah dibanding 2025. Ia menilai ketegangan geopolitik berkepanjangan di Timur Tengah, ditambah harga energi yang tinggi, berpotensi memangkas pertumbuhan perdagangan global hingga 0,5 poin persentase. Dampaknya dapat muncul melalui kenaikan biaya transportasi, gangguan jalur udara dan laut, melemahnya pariwisata, berkurangnya permintaan perdagangan, serta tekanan pada aktivitas lintas negara.

Di sisi lain, Suan memperkirakan permintaan yang terkait AI dapat menjadi penopang penting bagi perdagangan global, seiring kebutuhan teknologi dan komponen pendukungnya yang terus tumbuh.

Dalam paparan tren struktural, Suan menyoroti pergeseran besar struktur impor Amerika Serikat sejak 2018 yang mencerminkan diversifikasi rantai pasok. Berdasarkan data terbaru Biro Sensus AS (per awal 2016) yang ia rujuk, Meksiko naik menjadi sumber impor terbesar AS dengan porsi sekitar 16,9% dari total impor. ASEAN berada di posisi berikutnya dengan 15,7%, melampaui Uni Eropa (14,7%) dan Kanada (11,2%). Pada saat yang sama, pangsa impor AS dari Tiongkok turun tajam menjadi sekitar 7,8%, dari lebih dari 20% sebelum 2018.

Ia menilai perubahan tersebut merupakan dampak gabungan dari tarif, faktor geopolitik, dan strategi “China+1” perusahaan multinasional yang mendorong pergeseran jaringan produksi ke Asia Tenggara. Meski membuka peluang bagi ekonomi ASEAN termasuk Vietnam, tren ini juga menuntut peningkatan daya saing, efisiensi produksi, dan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sementara itu, struktur perdagangan Tiongkok juga disebut mengalami penyeimbangan ulang. Pada 2025, ASEAN menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok dengan porsi sekitar 16,6% dari total perdagangan, melampaui Uni Eropa (13,0%) dan Amerika Serikat (8,8%). Peran AS, menurut Suan, terus menurun dibanding periode sebelum 2018.

Perdagangan dengan mitra Asia kian sentral. Vietnam kini menyumbang sekitar 4,7% dari total perdagangan Tiongkok, yang dinilai menunjukkan integrasi Vietnam yang semakin kuat ke dalam jaringan produksi dan rantai pasok regional. Suan juga menilai Tiongkok secara bertahap memposisikan diri bukan hanya sebagai pusat ekspor utama, tetapi juga penghubung penting dalam ekosistem produksi dan perdagangan Asia.

Meski peluang terbuka, Suan menekankan tantangan pajak bagi bisnis berorientasi ekspor masih ada. Karena itu, ia menilai diversifikasi pasar ekspor tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Vietnam didorong untuk memaksimalkan manfaat dari 16 perjanjian perdagangan bebas yang telah ditandatangani, sekaligus memperluas jangkauan ke pasar impor yang berkembang pesat di Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan sejumlah kawasan Eropa.