Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, tetapi juga ruang bagi perempuan untuk tampil memimpin dalam mengelola usaha. Data menunjukkan, sekitar 60% pengusaha UMKM merupakan perempuan.
Di Belitung, salah satu pelaku UMKM perempuan adalah Zulyanti, yang akrab disapa Yanti. Ia merintis usaha rumahan berbahan baku nanas dan mengolahnya menjadi makanan ringan kemasan, seperti opak nanas, dodol nanas, dan produk olahan lainnya.
Yanti menuturkan, usahanya bermula pada 2022 dengan tujuan menambah pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Namun seiring waktu, usaha tersebut justru menjadi sumber pendapatan yang paling rutin.
“Awalnya tahun 2022 itu, saya hanya ingin menambah pemasukan supaya bisa bantu kebutuhan rumah tangga. Tapi lama-lama, justru dari usaha ini yang paling rutin ada,” kata Yanti di sela pelatihan bersama Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kementerian UMKM yang menggandeng ShopeePay dan SeaBank belum lama ini.
Dengan modal terbatas, Yanti kemudian mulai mengelola bisnisnya lebih serius. Ia menyebut usaha kecilnya kini mampu menopang ekonomi keluarga. Dari bisnis rumahan itu pula, Yanti turut melibatkan sejumlah ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya untuk membantu produksi.
“Yang pertama dirasakan itu saya dapat berbagi ke tetangga. Seperti beberapa ibu yang suaminya sudah tidak ada lagi. Mempekerjakan mereka dengan upah yang sesuai kesepakatan,” ujarnya.
Pengalaman serupa disampaikan Ningsih, pelaku usaha rumahan yang memproduksi camilan ringan setiap bulan. Ia memulai usaha dari dapur rumahnya dengan membuat kacang bawang dan makanan ringan lain menggunakan resep buatannya.
“Memang tidak langsung besar, tapi yang penting jalan terus. Setiap bulan pasti ada produksi dan ada pemasukan, jadi lebih tenang karena ada yang bisa dipegang,” kata Ningsih.
Sambil mengurus rumah tangga, Ningsih menjalankan produksi dan melayani pelanggan secara bersamaan. Ia mengatakan pelatihan bersama PLUT membantunya memahami pentingnya pengelolaan bisnis yang lebih tertata, termasuk dalam hal pencatatan keuangan.
Menurut Ningsih, transaksi penjualan perlu sejalan dengan catatan finansial yang teratur. Ia menilai keberlanjutan usaha sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas keuangan melalui pengelolaan pemasukan dan pengeluaran.
Melalui pelatihan bisnis dan finansial dari ShopeePay dan SeaBank, Ningsih mengaku memperoleh pengetahuan baru, terutama terkait manajemen bisnis dan perencanaan keuangan untuk masa depan keluarga. Ia juga menyadari pentingnya mencatat pembelian alat produksi.
“Kita kan juga sudah beli alat produksi seperti mesin dan kulkas tuh belum lama ini. Ternyata penting juga dicatat. Supaya ke depan tidak kacau lagi keuangannya,” kata dia.